Minggu, 24 Februari 2013

Sombong!!

Sebaik apa sih kita? Sebagus apa sih kita? Sehebat apa sih kita? Sampai-sampai kita pantas untuk berlaku sombong? Padahal nih ya.. Tuhan sengaja ciptain kita sebagai manusia dengan ciri khas, yaitu memiliki kekurangan. NAH! THAT'S THE POINT! 

Menurut gue, Tuhan tuh sengaja menciptakan kita dengan tidak sempurna agar kita gak punya alasan untuk sombong. Tapi yaaa.. namanya manusia, kadang berbuat baik aja sombong, malah berbuat salah aja sombong. Suka lupa kan kalau kesombongan itu bagian dari kekurangan. So any other reason to be arrogant?

Gue sendiri gak terlepas dari kata "kesombongan". Gue akui, dalam sekian tahun hidup gue, gue pernah melakukannya. Bahkan kalau gue inget-inget dan intropeksi diri, kayaknya banyak kesombongan yang gue lakuin. Apalagi di masa-masa pembelajaran, masa remaja. Tapi gue bersyukur, di masa 20 tahun gue, gue dapat banyak pelajaran tentang kesombongan yang juga merupakan bagian dari 'nafsu'. Ya.. nafsu untuk menunjukkan diri hebat dan nafsu untuk merendahkan yang lainnya. Dari pelajaran yang gue dapet, gue coba bercermin dan rasanya malu ketika tahu betapa lo pernah melakukan kesombongan yang gak perlu lo lakuin. Thanks banget God, banyak peristiwa-peristiwa gak mudah yang sudah bikin gue sadar untuk bersikap lebih baik. 

LAGIAN NGAPAIN SIH SOMBONG?

Lo pinter?  oke.. 
Lo cerdas? bagus..
Lo aktif? keren..
Lo cantik/ganteng? wow..
Lo tajir? wew..
Lo master? menakjubkan..
Lo alim? membanggakan..

Tapi apa itu semua bisa menjadi alasan lo untuk memandang rendah orang lain? ENGGAK! SIAPA LO EMANG?? 
Menurut gue sih ya percuma aja punya poin itu semua atau salah satu di antaranya tapi akhirnya hanya membuat diri lo merendahkan orang lain. Siapa sih yang pantas lo rendahin?
Kita gak bisa samain

Rabu, 20 Februari 2013

Fenomena Terkini Penggunaan Bahasa di Ruang Publik

Wilayah penggunaan bahasa Indonesia di wilayah Indonesia kini semakin tergeser oleh penggunaan bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Hal tersebut merupakan salah satu dampak dari ketidak-siapan mental masyarakat Indonesia dalam menghadapi era perdagangan bebas dunia. Kemajuan zaman dan kebutuhan pengetahuan universal ditanggapi secara salah oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Sehingga tuntutan mengikuti perkembangan zaman mampu menggerus kebudayaan dan identitas bangsa, di antaranya yang paling penting adalah penggunaan bahasa Indonesia oleh masyarakatnya sendiri.
            Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, bahasa komunikasi interbangsa, serta bahasa negara telah mendapat pengukuhan yang kuat, di antaranya pada konstitusi UUD pasal 36 c, UU No. 20 Th. 2003 mengenai bahasa Indonesia dalam sistem pendidikan nasional, dan UU No. 24 Th. 2009 mengenai Bahasa Negara. Khususnya pada UU No. 24 Th. 2009 dibahas secara mendetail mengenai peran dan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara di segala aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Maka, berdasarkan landasan-landasan tersebut, sebenarnya sudah tidak ada alasan bagi masyarakat Indonesia untuk memandang lemah dan menggeser peran bahasa Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat, dan memang seharusnya kesadaran itu timbul dari masing-masing pribadi sebagai cerminan kuatnya karakter bangsa.
            Semua landasan yang kuat mengenai penggunaan bahasa Indonesia tersebut seakan menjadi sia-sia ketika kita melihat fenomena yang terjadi di lapangan justru banyak terdapat pelanggaran terhadap keharusan penggunaan bahasa Indonesia sebagai simbol identitas bangsa, hal tersebut mempersempit ruang pergerakan bahasa Indonesia di  hadapan masyarakatnya sendiri. Pelanggaran yang paling memprihatinkan adalah ketika di ruang publik, ruang yang notabennya banyak mendapat perhatian dari masyarakat baik lokal maupun asing, justru penggunaan bahasa Indonesia seakan dinomor-sekiankan. Misalnya saja, penamaan gedung, jalan, perkantoran, permukiman, lembaga usaha, lembaga pendidikan banyak menggunakan bahasa Inggris dengan tujuan gengsi dan nilai jual. Padahal, organisas atau badan usaha tersebut dimiliki dan didirikan oleh warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia.
            Jika kita lihat, saat ini banyak nama bangunan atau gedung-gedung yang menggunakan istilah asing, yang sebenarnya jika menggunakan bahasa Indonesia akan lebih menarik. Contohnya seperti: “The Plaza Semanggi”, Jakarta Convention Center, Sudirman Tower, Jakabaring Sport Center. Sekarang, jika kita coba ubah penamaan tersebut ke penamaan dengan bahasa Indonesia, maka akan menjadi seperti berikut: “Plaza Semanggi”, “Balai Sidang Jakarta”, “Gedung Sudirman”, “Pusat Olahraga Jakabaring”. Nah, bisa kita lihat, dengan menggunakan penamaan bahasa Indonesia tidak mengurangi nilai estetika dari penamaan tersebut. Bahkan, menurut saya justru memperkuat nilai estetika dari bangunan tersebut, karena mencerminkan karakter dan pendirian yang kuat serta memiliki identitas yang jelas. Seperti penamaan “Pondok Indah Mall”, “Mall Taman Anggrek”, yang memang sudah menggunakan penamaan dengan bahasa Indonesia sejak didirikan justru memiliki keindahan dan kekuatan tersendiri, bahkan tersohor di kalangan masyarakat Indonesia dan pihak asing.
            Kemudian, selain pergeseran penggunaan bahasa Indonesia di penamaan bangunan atau gedung, kita juga kerap menjumpai pergerseran tersebut di ruang atau fasilitas publik lainnya, seperti misalnya rambu lalu lintas, papan-papan petunjuk, papan-papan peringatan, atau informasi pada produk barang dan jasa keluaran Indonesia, dan semua itu semakin memprihatinkan karena terjadi di negara Indonesia itu sendiri di mana seharusnya bahasa Indonesia dijunjung tinggi penggunaannya dan penduduk mayoritasnya adalah masyarakat Indonesia yang juga penutur bahasa Indonesia.
            Misalnya saja, jika kita lihat banyak pada rambu lalu lintas, marka jalan, papan petunjuk, papan peringatan yang menggunakan bahasa Inggris, seperti: “Be Careful!”, “Wet Floor”, “Enter-Exit”. Terkadang kita lupa bahwa tidak semua lapisan masyarakat di Indonesia bisa berbahasa asing. Sedangkan, tujuan dari rambu lalu lintas, marka jalan, papan petunjuk, dan papan peringatan itu sebenarnya adalah untuk masyarakat umum. Maka bukankah sebaiknya menggunakan bahasa yang mampu dimengerti oleh semua kalangan dan lapisan masyarakatnya? Dalam hal ini bahasa Indonesia mestinya menjadi pilihan mutlak agar semua orang bisa menikmati manfaat dari rambu lalu lintas, papan petunjuk, dan papan peringatan tersebut. Agar tidak ada masyarakat Indonesia yang tidak mengerti dan justru merugikan mereka. Bukankah, jika pergeseran tersebut terus berlanjut itu sama saja dengan kita mengutamakan kepentingan warga asing dibanding dengan warga Indonesia itu sendiri? Betapa hal tersebut menunjukkan melemahnya karakter bangsa.
            Dari semua fenomena pergeseran penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik tersebut, kita bisa melihat betapa rapuhnya karakter bangsa di masa kini. Seakan masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang labil, tidak memiliki keteguhan dan pendirian kuat, serta kehilangan identitas kebangsaannya, karena seperti yang kerap kita dengan bahwa bahasa menunjukkan bangsa. Maka perlu adanya upaya kuat untuk menata dan membangun kembali karakter bangsa bagi generasi pelapis. Selain itu, perlu adanya peraturan keras dalam hal penggunaan bahasa Indonesia yang sebenarnya sudah jelas diatur dalam konstitusi dan undang-undang bahasa. Oleh karena itu, saat ini yang terpenting adalah kesadaran pemerintah Indonesia dan pelaku bahasa itu sendiri untuk mengembalikan identitas bangsa lewat bahasa. Peran pemerintah itu sendiri sudah diatur dalam UU No. 24 Th. 2009, pasal 41. Untuk mengawasi pelaksanaan UU No. 24 Th. 2009, khususnya pasal 36, 37, 37, dan 39 mengenai aturan penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik, media publik, dan informasi-informasi produk barang atau jasa.
            Keseriusan pemerintah bisa dibuktikan dengan segera mengeluarkan Peraturan Presiden menyangkut undang-undang bahasa, untuk segera dilakukan penertiban dan penataan kembali penggunaan bahasa Indonesia terutama di ruang publik. Peraturan harus diselenggarakan dengan penuh disiplin, seperti misalnya pencabutan izin mendirikan bangunan bagi yang melanggar; mengutamakan penggunaan bahasa Indonesia dalam rambu lalu lintas, marka jalan, papan peringatan, dan papan petunjuk; mengutamakan penggunaan bahasa Indonesia dalam informasi produk barang atau jasa. Semua itu harus dilakukan dengan keseriusan dan tindak nyata yang pasti. Karena menurut saya tujuan tersebut sangatlah positif, dan dengan begitu kita secara tidak langsung memaksa pihak asing untuk mengikuti aturan yang kita buat, sehingga mereka akan belajar lebih banyak mengenai bahasa Indonesia yang akan membuat bahasa Indonesia lebih dikenal di kalangan dunia. Jika hal tersebut terus berlangsung, maka peluang menjadikan bahasa Indonesia menjadi bahasa Internasional menjadi semakin besar.
            Selain tugas pemerintah, yang paling harus memiliki kesadaran adalah masyarakat Indonesia itu sendiri. Masyarakat Indonesia harus bisa menjadi masyarakat yang cerdas dalam menanggapi tuntutan zaman, dengan menjadi masyarakat yang cerdas namun juga memiliki identitas dan karakter bangsa yang kuat. Sehingga di manapun ia berada akan dihargai. Maka masyarakat Indonesia mestinya cerdas dalam memilah kapan dia perlu menggunakan bahasa asing dengan tetap mengutamakan penggunaan bahasa Indonesia. Karena, yang membuat bahasa Indonesia lebih memiliki tempat adalah penggunanya itu sendiri. Bukankah akan menjadi hal yang membanggakan ketika bahasa Indonesia memiliki kekuatan untuk menarik warga asing mempelajarinya? Dan bukankah suatu hal yang membanggakan ketika kita tetap memiliki karakter bangsa yang kuat di tengah era perdagangan bebas dunia melalui bahasa? Menurut saya jawabannya sudah pasti “ya”.

Sabtu, 16 Februari 2013

Anak Seorang Pejuang

Aku anak seorang pejuang
Bapakku lanang dari negeri lapang

Negeri tempat orang beruang, juga terbuang

Aku anak seorang pejuang

Bapakku lanang berjiwa tenang

Guratan-guratan lembut di wajahnya, melukiskan kedinian yang telah lekang

Aku anak seorang pejuang

Bapakku lanang setegar karang

Untuk anak istri, terus ia berjuang

Melewati subuh yang masih malu-malu bertemu fajar pembawa terang

Bapakku sudah berangkat sedari kelelawar masih belum bersarang

Melangkahkan kaki kokohnya

Mencari barang bernama “uang”

Lalu petang?

Kadang Bapak masih belum pulang

Masih sudi menantang malam

Untuk anak istri, terus ia berjuang
Bapakku dengan pakaian lusuh dan rambut abu-abu
Pada malam ia pulang, dibawa sekantong makanan untuk dibagikan
Hasil sebuah perjuangan
Bapakku lusuh, bau debu bercampur peluh yang menyatu
peluh pengorbanan
Bapakku lelah, meski tak pernah ia bercerita namun jelas terbaca
Dan Bapakku bahagia
Sembari menikmati kopi hitam panas ia berkata “sudah kenyang?”
Dan kemudian kami menjawab “sudah Bapak..”
Lalu senyumnya mengembang, matanya penuh sinar ketenangan
Mungkin Bapak tidur nyenyak malam ini
Meskipun hanya makanan saat hendak berjuang saja yang ia rasakan
Tapi mungkin ia tidur tenang malam ini, karena ia sudah dengar sendiri anak istrinya bilang “kenyang”
Dan mungkin ia sudah cukup senang malam ini
Karena Bapakku adalah seorang pejuang
Pejuang, Lanang dari negeri lapang

Terinspirasi oleh :
Seorang Bapak tua lusuh yang membawa kantong kresek hitam penuh, yang saya temui di angkot pada malam hari, saat akan pulang ke rumah. Bapak tua yang melihat buah-buah duren di pinggir jalan yang kami lewati dengan begitu khusyu’nya (mungkin tanda kalau ia begitu ingin membelinya).. Bapak tua yang saya temui pada malam saya menghindari kepenatan (25/05/2010)..
Dan terima kasih kepada Bapak tua yang tidak saya ketahui namanya.

Jakarta, 26 Mei 2010

Untuk yang tersakiti dari kesakitan 'akasia itu': 'angin'

Sekarang hilang..

Akasia itu memang bertahan di setiap musim
Di setiap unsur yang melewatinya
Tapi sekarang hilang, ada yang hilang
Gersang, lembab meradang, telah lama tak dijumpanya sang angin dan Akasia memang merindukannya, merindukan sepoynya yang dulu tak ia pahami
Rasanya ad kesalahan besar, bahkan akasia itu pun menjadi layu kala mengingatnya, layu kala melihat sang angin pergi hanya membawa debudebu kehampaan
Akasia sendiri hanya bisa diam tak tau harus apa
Hanya saja akasia itu begitu layu melihat luka sang angin
Ada kelopak yg terkikis, jatuh tanda kedukaan
Dan lantas akasia seperti berbisik "oh angin sekuat itukah ingin pergi? Bahkan aku sendiri tak bisa menentukan. Kau benar angin, ku rasa pilihanmu tepat untuk berhembus kencang menjauh, kau pantas dapatkan sesuatu yang lebih pasti. Naasnya aku merasa aku adalah sesuatu yang tak pasti"

kini tinggal akasia itu, menyimpan kenangan lalu, kenangan yg pernah terabaikan dari kepekaannya.
Kini tinggal akasia itu, menanti jawab sang waktu.

Untuk yang tersakiti dalam kesakitan 'akasia itu' : 'a n g i n'

GA
April 2010

Cerita Malam (Inspired by: Novel "Larung")

Membalut sadar dengan kekosongan.
Terhempas roh ke luar pintu2 penghabisan.
Mulai bertarung saat seonggok daging bertulang jatuh beristirahat.
Para roh masih menari pedih, melayang layang di langit seberang, membirukan wajah yang mata batinnya menyala.
Roh bertarung, memperebutkan tiket pulang, tiket masuk kembali pintu penghabisan.
Bagai judi memperebutkan gerbang perbatasan.
Dan tentang kemenangan, 'subuh ini milik siapa'?
Kemudian sejak paginya ada keluarga yang menangis pedih, karena satu roh kalah tak kembali 

(Dinda Hn. Terinspirasi oleh 'Larung')


Jakarta, Juni 2010.

Teruntuk yang jauh di negeri seberang benua: Abang

Jika besok adalah harpa, jadilah waktu-waktu ini dawai yang siap dipetik, menjadi acak nada yang harmonis..
Agar bahagia, agar senang rasanya.

Sedang dalam waktu-waktu itu ada kisah-kisah yang bergelayut, brgantungan atau bahkan telah jatuh, gugur dan rapuh. Dan kemudian di antara yang bergantungan atau bahkan telah jatuh, gugur dan rapuh itu ada sekepal kenangan dan sekepal harapan.

Dan esokmu adalah harpa itu Abang.. 
Dalam dawaimu ada kenangan dan harapan tentang seseorang dan tentang tujuan..
Aku Abang... tidak pernah mampu membaca mati arah akalmu, sedang engkau tak pernah berada dalam rona hitam ataupun putih, sebuah abu-abu bagiku.

Sudah Abang, cukupkan hati mu dengan ketenangan, mainkan nadamu dengan keteduhan.
Tak kan habis perkara yang belum saatnya terbaca.
Basuh segala risaumu untuk setiap peluh, juga untuk wanita yang diam-diam merayu hatimu.

Terangkanlah Abang.. Terangkan wajah mu..
Lusa akan ada syahdu nada berlaga merayu-rayu..
Lusa masih ada harapan-harapan menantimu, menunggumu, untuk datang kembali dalam sekelompok hati, ataupun sekeping yang tak mati.


GA - Agustus 2010

Terbiasa

lurus, jauh, menerawang pandang..
di pinggir pantai bersalju, ataupun gunung berpasir
melangkahkan kaki ataupun mengepakkan sayap 
tajam, menikam, setiap sela layang dimensi tertangkap,
dalam merah warna udara, menghirup tajam kehampaan
NOL
dan datang menjadi SATU, LIMA, TUJUH, LIMA PULUH, BANYAK !!
lalu pergi semua bersamaan, seperti pasir yang terhuyung angin.

perlahan semua akan hilang, tapi aku sudah terbiasa, ramai lalu sepi serentak, aku sudah terbiasa, sejuk lalu senyap sekejap, aku sudah terbiasa, mengikhlaskan sejak dini atau bahkan mengusir pergi, agar keramaian tiada ada yang tersakiti, sungguh aku terbiasa, dalam episode akhir di satu alur cerita : hanya aku tokoh utama, aku terbiasa

kering, perasaan, hati, atau bagian lain yang kulupakan
sajak tentang kasih,  tak lagi berbumbu,
hambar tak dapat lidah menyentuh
kerikil, batu, semen yang mengering, menitikkan jejak-jejak keramaian,
dan kemudian hanya tertutup kumpulan debu

lalu kembali berjalan, meniti, menatap tajam ke depan,
seperti sirna warna pelangi itu, lalu kembali pada abu-abu,
lalu kembali dari keramaian, dan membatu


Kucuri Nama

Ini malam, seperti denting-denting kaca di ruang hampa tak hingga,
bunyinya nyaring tapi sepi menjadi terasa.

Ada tirai menjulur,
kainnya dari perca tertulis nama,
kainnya penuh nama, melambai-lambai menjulur di hadapan mata.

Tiba-tiba segalanya putih tiada tepi,
tiada lagi biru kejinggaan milik langit,
atau redup keabuan milik mendung.

Tiada.. Tiada tepi dalam putih

Hingga suara menggema,
suara dari oase yang berbicara,
darinya muncul huruf-huruf yang berterbangan,
bersembunyi di balik tirai perca yang menjulur tak berujung.

Huruf-huruf yang membentuk nama.

Udara pun penuh nama.

Hingga tiba masa berubah.
Mendung, cerah, dan warna mulai datang menjajah,
ruang putih tak bertepi mulai menggeser diri,
membawa ribuan dawai kebisuan,
tentang cerita yang hilang.

Pun hilang tirai perca penuh nama.
Pun hilang huruf-huruf berterbangan.
Hilang mereka bersama putih yang pergi.

Tapi tau kah para oase yang bernyanyi?
Bahwasanya telah kukantunginya sebuah nama di hati. 
Sebuah nama yang diam-diam kuambil dari tirai perca atau dari huruf-huruf yang berterbangan. 

Sebuah nama yang selalu membuatku bermimpi..
Mimpi..

hn.
jkt, 30 Apr 2011

Kinetik

I
Kita tidak pernah tahu, apakah ini API yang akan membakar salah satu di antara kita? oh.. bahkan mungkin seluruh, yang terlibat dalam kisah ini kan dilahapnya. Tapi, mungkinkah ini hanya sekadar sebuah PERCIKAN yang menghangatkan, yang membuatku tentram, yang membuat kita seakan lupa bahwa sudah ada pilihan yang diputuskan, yang membuat kita saling mengerti tanpa pernah ada kesepakatan dalam kata yang berhamburan dari bibir-bibir yang menahan dirinya.

II
Jika, aku hanya sekali ini saja akan membiarkan bibir ini tak mengatup, mengurung kata-kata yang terus ingin menembus, apa yang kauharapkan?
Jika, aku hanya sekali ini saja akan berkata jujur padamu, apa yang ingin kaudengar?
Jika, aku hanya sekali ini saja akan mendengarkanmu dengan benar, apa yang ingin kaukatakan?

III
Ketiga ini, masih tentang kita. Masih tentang waktu yang coba tuk tak pernah dipersalahkan. Masih tentang kebetulan, atau sebuah keterpendaman?
Sesekali coba kucuri cahaya yang mengilat di matamu, dan ia begitu menusuk. Seakan menjadi jawaban yang menghangatkan. Sehangat kala bersandar di bahumu yang tak begitu besar. Tapi, kenyataan selalu mampu memakan setiap fatamorgana.

IV
Di sebuah ruang, yang kita cipta sendiri. Kita duduk berdua, menatap yang tak pernah kita cari. Memainkan peran kita. Mengerti tanpa berkata-kata, memahami tanpa bertanya, memberi tanda-tanda yang mungkin terlalu takut tuk ku ketahui.
Kita saling memainkan peran baru, dengan menyadari peran yang lama itu masih ada dan tak mampu hilang.

V
Kita mencoba menembus batas yang sudah terlanjur kokoh, tapi sekali lagi keterbuaian ini selalu mampu disadari oleh kenyataan.. kita memiliki "kehidupan" masing-masing. Kurasa begitu dengan dirimu.

VI
Biarlah, kita menatap yang tak pernah kita cari, jika masih terlalu takut untuk segala yang pasti dan melukai..


Ruang, 23 Maret 2012

sadar

Aku bertanya padamu, adakah yang lebih manis dari rasa es krim coklat malam ini? 
Ada. Jawabmu secepat kilat. 
Dan langit memasang mata untuk melihat. 

Apa itu? Tanyaku ragu. Dan kaubilang: 
adalah yang lebih manis, bunga2 yang kutawarkan padamu. 
adalah yang lebih manis, 
perasaan, 
yang kita jalani saat ini. 

Aku bisu. 
Lalu waktu menjadi beku. 
Kita terjebak dalam diam dan es krim coklat yang pekat. 
Hingga kukatakan tentang rindu, 
rindu yang akan datang. 
Tapi kau tersenyum satir, berkata tentang sesuatu dalam getir. 

Oh ternyata.. 
Rupanya, aku terlalu kejam telah meminta dari yang lebih terluka. 

Lagi, aku menepi. 
Dering ponsel kubiarkan hingga sunyi. 
Mestinya kautahu, tak ada yang benar bahagia di sini. 
Semua, mengubur luka di hati. 

April 2012


*dua bait pertama adalah bait saduran dari Hamba Allah x) 

Wanita di Lain Kisah

Di manakah harga seorang wanita? 
: pada kekasihnya 
yang diabdi penuh cinta, yang meminangnya sesuci surga. 

Di manakah harga seorang wanita? 
: pada anak-anaknya 
yang disayang dalam asa, 
dalam peluh dan doa. 

Tapi lain kisah, di manakah harga seorang wanita? 
Yang tiada daya melawan nista, membekas dalam rupa duka. 
Miliknya, hampir seluruh hilang sudah, hilang lebur dilahap dosa. 
Kini yang digenggamnya tersisa sebuah. 
Yang dijaganya 
Yang dipeluknya 
Yang didekapnya dalam tatih dan luka. 
: pada manusia yang menganggapnya rendah

surat(an)

Depok, Mei 2012 

Kepada yang dituju, 
di hati 

Dapatkah kita duduk berlamalama, berdua? Sekadar bicarakan mengapa angin terasa begitu dingin belakangan ini atau mungkin ditambah dengan mengenang kisah lampau yang menawan. 
Dapatkah kita berbincang hangat, berdua? Bersama secangkir moka dan cane yang kausuka. 
Ada yang ingin kusampaikan, kubicarakan. 
Maukah kau mendengarku, penuh? 
Tanpa amarah, luka, dan kesah. 
Sekadar saling berkisah tentang resah. Berangan tentang esok yang nyaman. 

Jadi, maukah kau mendengarku, penuh? 
Aku hanya ingin bercerita, tanpa meminta. 

Salam rindu, 

Aku.

nama

angin, semakin saja keras berhembus
rasanya menyelipkan kesunyian pada linu linu luka yang memerah
impian yang kita bicarakan petang itu
sampai sudah pada batas yang kelabu

apakah terlalu kita mencari tahu?
bagaimana cara untuk mencintai dengan rimbun dan anggun
dan taman lingkar kerap menjadi saksi, bagaimana kita menahan perih sepi ini
untukmu untukku, lagi, bahagia adalah lapisan luka duka yang terlupa
lantas, apakah keasingan menjadi nilai mati yang kausajikan?
lantas, apakah kesunyian harus memainkan tarian pada tiap pertemuan?
aku pernah bertanya padamu, bilamanakah semua kan berlalu?
hening. Keasingan tiba, dan warna pelangi itu menjadi bening


Ruang, Juni 2012

Terdepan