Sabtu, 30 Maret 2013

HAMPA: Wujud Kegelisahan Sang Maestro Penyair

“HAMPA” : WUJUD KEGELISAHAN SANG MAESTRO PENYAIR
Sebuah Artikel Analisis Lapis Makna Puisi HAMPA Karya Chairil Anwar

Mengupas lapisan makna dalam tubuh puisi, tentunya tidak bisa terlepas dari faktor ekstrinsiknya. Dalam hal ini, sejarah mengenai terciptanya puisi tersebut serta sang pengarang itu sendiri menjadi penting untuk membangun spekulasi makna yang akan dimunculkan. Setelah mengetahui asal-usul tersebut, maka bisa terbayanglah apa yang terkandung dalam tiap bait puisi yang dicipta. Semua tentu berkaitan dengan emosional pengarang, baik secara pribadi maupun emosional akibat rasa empati pengarang terhadap sekitarnya.
HAMPA
kepada Sri
Sepi di luar. Sepi menekan-mendesak
Lurus kaku pepohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak . Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti
Sepi.

Tambah ini menanti jadi mencekik 
Memberat-mencengkung pundak
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan tiada
Maret 1943
HAMPA – merupakan salah satu puisi karya sang maestro penyair angkatan ’45, Chairil Anwar. Chairil Anwar memulai kiprah kepenyairannya secara aktif dan terpublis sejak tahun 1942 s.d. 1947. Puisi HAMPA ini dibuatnya pada tahun 1943. Ada kata kunci utama dari puisi HAMPA ini, yaitu setelah judul, sebelum bait pertama. Chairil mengawali puisinya dengan tulisan ‘kepada Sri’. Maka, penafsiran pertama mengacu pada Sri. Siapakah Sri?
Sri adalah wanita pemimpin redaksi dari salah satu majalah kebudayaan di tahun-tahun awal nama Chairil muncul di kalangan sastrawan dan budayawan. Dalam sumber buku AKU karangan Sjuman Djaya yang disusun berdasar pengalaman hidup Chairil, Sri pertama kali bertemu Chairil dalam satu pertemuan para pemimpin redaksi majalah kebudayaan. Sri sedang membaca puisi saat Chairi datang. Diketahui, Sri memang wanita yang memiliki pesona tersendiri dan lemah lembut. Melihat sifat Chairil yang juga “mudah terpikat”, maka tidak heran jika akhirnya Chairil membuat sebuah puisi untuk Sri. Karena ia memang kerap mengabadikan wanita-wanita yang berkesan di ingatannya dalam bentuk puisi.
Bait pertama, larik pertama puisi HAMPA diawali dengan kata ‘sepi’, yang kemudian kata ‘sepi’ ini ternyata menjadi kata kunci berikutnya. Pada bait pertama kata ‘sepi’ menguasai isi tubuh puisi. Menggambarkan bagaimana kekosongan perasaan Chairil saat itu, seperti yang sudah jelas terlukis sejak penjudulan puisi, HAMPA.
Sepi di luar. Sepi menekan-mendesak
Lurus kaku pepohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak . Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Larik-larik di atas menggambarkan suasana sepi yang teramat sangat. Sepi yang tadinya hanya di luar sampai masuk hingga menekan, mendesak ke dalam, seakan teramat besar dan berat sepi itu. Bahkan sepi yang teramat sangat itu digambarkan Chairil hingga pepohonan saja tidak bergerak sedikit pun, sampai ke puncak pohon. Tidak ada angin semilir yang bisa membuat suara gesekan daun. Keadaan teramat sepi. Hingga sepi itu memagut, seakan menggigit atau memeluk dengan erat dan tak satu pun yang kuasa untuk terhindar dari sepi itu atau bahkan menolong seseorang untuk terhindar dari sepi itu.
Segala menanti. Menanti. Menanti
Sepi.
Larik di atas bisa menggambarkan bentuk kekesalan Chairil atas penantian-penantian yang dilakukannya terhadap wanita yang dimaksudnya dalam puisi ini. Dan juga bisa menunjukkan keputus-asaan Chairil dengan perasaannya, yang akhirnya hanya akan berujung pada sepi.
Tambah ini menanti jadi mencekik 
Memberat-mencengkung pundak
Lewat larik di atas, Chairil merasakan sebuah penantian atas wanitanya yang semakin lama semakin membuat perasaannya sulit. Memberatkan pikirannya, menjadi beban bagi dirinya (seperti ada beban di pundak yang sangat berat, hingga pundak mencengkung menahan beban itu).
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Larik di atas seolah mengungkapkan, akibat terlalu sulitnya perasaan yang Chairil rasakan, dan hanya sepi yang menjadi jawaban, maka perasaan itu menjadi binasa, putus asa, kosong, hampa. Belum ada hasil yang ia dapati dari rasanya pada sang wanita, entah itu rasa ingin memiliki, atau sekadar kerinduan, namun kehampaan yang teramat yang ia rasakan, membuat segala harapan seakan binasa.
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan tiada
Udara bertuba. Setan bertempik – menggambarkan suasana yang sudah sangat tidak nyaman. Udara seakan menjadi penuh racun, sesak, dan setan-setan bersorak riuh, berteriak, membuat suasana semakin kacau. Seakan menjadi gelap. Keadaan hampa yang digambarkan Chairil begitu dalam, sunyi, dan suram. Ini sepi terus ada. Dan tiada – sepi itu tak kunjung hilang, bahkan Chairil berpikir, hidupnya memang terkukung sepi, sepi itu terus ada hingga menjadi kebiasaan, dan seakan tiada sepi. Karena memang sepi sudah menjadi bagian darinya. Seperti sudah pasrah terbiasa.
****
Dari keseluruhan analisis tubuh puisi HAMPA, jelas puisi ini menggambarkan sebuah kedukaan perasaan seseorang yang tertimpa sepi dalam segala penantiannya. Kekosongan hatinya yang ia rasakan begitu sangat, dan terlebih ketika ia teringat pada wanita yang disukainya. Seakan kehampaan itu semakin menjadi-jadi karena tidak bisa memiliki wanita itu. Bisa jadi, seperti menggambarkan juga tentang cinta sepihak. Dan pada akhirnya ia hanya akan menjadi biasa dengan sepi yang terus ada itu.
Lewat puisi HAMPA ini, Chairil begitu dalam menggambarkan bentuk kesepian, kehampaan yang ia rasakan. Bentuk kerinduan yang sunyi terhadap Sri. Dan perlu diketahui, memang saat menulis puisi ini, Chairil sedang menaruh hati pada Sri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terdepan