Rabu, 15 Juni 2011

S U R A T [short story]

hayyaaa this is it, the short story! lets read it with your fav. coffee and little slowly music.. check it out :)

| S U R A T |

Tanganku bergetar saat membuka sebuah surat usang. Surat yang membawa banyak kenyataan. Surat yang ternyata aku rindukan. Surat yang menggiringku pada jawaban tentang sebuah kebenaran.


*****

Untukmu, dariku

Mungkin bagi sebagian orang, pertemuan adalah sesuatu yang biasa. Tapi tidak bagiku. Kita memang bisa bicara tentang merubah nasib. Tapi pertemuan adalah sebuah takdir.
Apakah Tuhan akan menggariskan sesuatu yang sia-sia?
Para orang tua berkata, Tuhan tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Maka Tuhan tidak pernah menciptakan aku, kamu, kita dengan sia-sia. Tuhan juga tidak menciptakan pertemuan kita secara sia-sia. Kau tahu maksudku bukan?  Hingga akhirnya kumulai semuanya dari pertemuan yang tidak pernah kita duga, yang tak akan sia-sia.
Kita kerap berpapasan. Di lorong-lorong, di kantin, di jalan, di sela-sela waktu yang menghantar kau padaku, di sela-sela sunyi yang menyusup kala mata kita bertemu.
Kita sering bertemu, sedikit mencari pandang. Saat kautanya aku di toko buku itu, tapi kita tidak mengenal, kita hanya saling melihat, dan pergi... Tahukah kamu, kala itulah kita menumbuhkan sebuah afinitas di alam ketaksadaran kita. Entah denganmu, tentunya iya untukku. Tapi aku yakin alam ketaksadaranmu juga menanamkan itu. Jadi kau tahu maksudku bukan? Pertemuan yang berkali-kali itu membuatku berharap pada takdir untuk memainkan perannya dengan baik.
Hmm mengenai kata para orang tua tentang tidak ada yang sia-sia di dunia ini. Menurutku, perasaan yang kita miliki juga tidak sia-sia. Nafas kita juga tidak sia-sia. Secara tidak sadar kita saling mengirimkan getar, itulah yang pasti dirasakan oleh setiap yang berafinitas. Getar dari molekul-molekul yang merambat, yang dikirimkan oleh perasaan melalui nafas dan udara yang membawanya. Yang mengikat perasaan kita hingga seakan saling tarik menarik. Hingga aku bisa merasakan kegelisahanmu, dan aku tahu, kau juga merasakan debaranku. Aku yakin itu! Dari matamu, tingkahmu, jabatan tanganmu, senyumanmu. Aku yakin, Pria..
Pernahkah kau mengetahui soal bahasa tubuh?
Dan aku melihat itu darimu, dari sinar-sinar di matamu yang meloncat-loncat dalam redup, seakan ingin mengajakku bersikap lebih banyak. Tapi kita diam, kita merepresi semua keinginan itu. Ada hal lain yang lebih perlu kita jaga di dunia realistis ini.
Ya.. kita akhirnya merepresi keinginan itu. Aku dan kamu akhirnya melupakan sapaan “hai, kita sering bertemu sebelumnya bukan?”“hai, bukankah kau yang di toko buku itu kemarin?”, “hai, sepertinya aku sering melihatmu”,  atau sapaan lainnya. Kita masih sadar kita tidak hanya berdua di area ini, di waktu ini.
Kau perlu tahu, aku tidak pernah merasakan hal yang seperti ini sebelumnya. Aku percaya pada afinitas. Tapi aku belum pernah merasakan afinitas itu. Hingga akhirnya aku melihatmu, satu kali, dua kali, tiga kali, hingga berkali-kali, yang menghantar kita pada pertemuan tak terduga. Maka pada akhirnya dapat kutahu siapa namamu. Dan kuucapkan namaku dengan suara seindah mungkin yang kubisa. Karena aku takut tidak akan pernah bisa melakukannya lagi.
Sesuatu yang indah. Kita berjumpa di suatu siang, di antara banyak hal yang menyelimuti. Kita berjarak dua sisi, tapi banyak hal yang tidak bisa kita bagi. Kita tidak hanya berdua di wilayah ini, sayang sekali.
Tahukah kau? Aku sesekali menangkap matamu yang sedang mencariku dalam kediaman kita. Mungkin juga kaudapati aku seperti itu, mencarimu di tengah kediaman yang melanda dunia kita.
Kauingat saat luang menghampiri kita? Kita hanya saling terdiam, tapi afinitas kita bekerja semakin kencang. Aku bergidik, hingga akhirnya aku menunduk. Aku takut, takut mencintaimu di waktu dan keadaan yang salah. Aku berusaha merepresi perasaanku lebih keras. Sangat keras. Hingga luang yang begitu singkat menjadi terasa sangat lama. Menimbulkan sedikit sesak di dadaku. Sempat aku menusuk waktu dengan satu pertanyaan tajam, “hai waktu! mengapa kau tidak memihak padaku, pada kami?!”.. hah bodohnya aku.
Pria, ini adalah tentang perasaan. Kita sudah takut melawan keetisan, tapi kita tidak perlu takut mengakui perasaan ini, setidaknya hanya di antara kita. Bukan perasaan kita yang salah, bukan juga waktu dan keadaan yang terlambat yang salah. Bahkan hal-hal lain yang mendesak kita juga tidak bersalah.
Kau bingung, Pria?
Baiklah, aku tidak ingin membuatmu bingung lagi. Cukup sudah kebingungan kita ini. Sekarang kita jalani semua seperti biasa. Yaa.. mungkin kali ini kita harus berjuang lebih keras untuk menahan perasaan yang belum saatnya keluar.
Kauingat kata para orang tua tentang tidak ada sesuatu yang sia-sia? Maka aku tidak akan menjadi sesuatu yang sia-sia bagimu, begitu juga denganmu, tidak akan menjadi sesuatu yang sia-sia bagiku. Suatu saat, kita akan hadir kembali di waktu dan keadaan yang baru, yang memberikan kita kesempatan untuk menyelesaikan perjalanan panjang afinitas ini. Kita tidak pernah tahu bagaimana akhirnya, tapi aku menyerahkan diri kita pada waktu, tempat Tuhan akan menempatkan kita di satu masa kembali.
Biarlah seperti itu, setujulah kau denganku. Kali ini kita tidak perlu melawan yang telah terjadi, karena pasti akan banyak darah mengucur dari sisi yang tak terlihat. Keterlambatan ini juga bagian dari permainan Tuhan bukan? Maka keterlambatan ini juga tidak akan sia-sia. Bagaimanapun, kita hidup di dunia yang bukan hanya ada kita berdua. Dan segala sesuatu tidak selalu mudah, tapi selalu memiliki cara untuk menyelesaikannya. Dan ini caraku Pria, menyerahkanmu kembali pada waktu.
Entah dengan siapa kau saat aku menulis surat ini, dan entah dengan siapa aku saat kau membaca surat ini. Tapi ketahuilah pria, masa yang ada sekarang mungkin memang bukan milik kita, tapi masa yang akan datang, siapa yang akan mengira?
Percayalah padaku, tidak akan ada yang sia-sia tentang apa yang telah Tuhan ciptakan. Termasuk saat Tuhan menciptakan kau, aku, dan pertemuan kita.
Sampai jumpa di masa lain!

Jakarta, Minggu di bulan Juli,
di kota dan hari yang mungkin kita akan berhadapan lagi nanti,
Gadis.

*****

Aku menangis keras saat membuka kembali surat dari Gadis, surat yang datang lewat angin yang melemparnya keras ke wajahku beberapa tahun lalu. Dan semenjak itu tak pernah lagi kujumpai dia.
Aku bingung darimana ia tahu tentang teori afinitas itu, teori ketaksadaran itu, dan teori ketak-siaan itu. Namun akhirnya tebakannya memang tepat, semua itu memang tepat. Pengecutkah  aku yang membiarkannya terlarut dalam waktu? Salahkah aku yang memperdulikan keetisan hingga aku kehilangan dia untuk beberapa lama?
Tapi dia bahkan telah mengatakan tak pernah menyalahkanku, dia mengatakan itu lewat suratnya, jauh sebelum aku melakukan hal ini, menyalahkan diriku sendiri. Dia menjawab lebih awal dari pertanyaanku. Itukah afinitas yang ia eluhkan? Ya.. kami berafinitas.
Kukira aku sudah melupakannya, tapi ia benar, aku hanya merepresinya di alam bawah sadarku. Karena ternyata secara tak sadar aku masih menyimpannya, lewat suratnya yang tetap kujaga, kusimpan. Sampai pada akhirnya kami benar-benar bertemu, seperti yang ia katakan.
Waktu benar-benar mempertemukan kami. Ia benar ketika berkata Tuhan akan mengirim kami ke suatu masa dan keadaan yang berbeda untuk menyelesaikan afinitas panjang di antara kami. Itu benar-benar terjadi 4 tahun setelah perjumpaan kami siang itu, perjumpaan yang membuatku merasakan getaran aneh di antara keterbatasan gerak kami.

-------

Kemarin, di hari ia menulis surat itu 4 tahun lalu, kami bertemu. Di sebuah rumah sakit tempat kekasihku dirawat akibat kecelakaan, aku menjumpainya. Ia hadir secara tiba-tiba, ia melewatiku dengan keadaan tubuh terbaring di atas tempat tidur dorong rumah sakit. Aku merasa sesuatu memanggilku, getaran 4 tahun lalu itu terasa kembali. Aku menatap Gadis sedang tergeletak di atas pembaringan itu menuju suatu ruangan. Aku terkejut, hingga aku memutuskan untuk mengikutinya. Kemudian langkahku terhenti di depan pintu UGD rumah sakit. Ada perasaan sesak di dadaku. Aku tertunduk. Entah aku merasakan apa saja saat itu.
Tiba-tiba seorang suster keluar dari ruangan dan bertanya padaku, “anda keluarganya?”, aku terdiam, terpaku, aku merasa masa lalu seperti menyerangku. Belum sempat aku menjawabnya, seorang lelaki berkulit sawo matang langsung masuk ke pembicaraan kami, “saya tunangannya, sus!”. Aku menengok ke arah lelaki yang berdiri satu langkah di belakangku itu, aku terkejut, dia juga terkejut. Ternyata dia temanku saat kuliah. Aku benar-benar merasa dikalahkan oleh takdir atau apalah lebih tepatnya, aku merasa takdir begitu berkuasa di sini. Bahkan aku merasa dipermainkan oleh takdir. Hah bodohnya aku!
Belum sempat lagi aku menanyakan temanku itu yang ternyata tunangan Gadis, ia sudah masuk ke dalam ruangan bersama suster. Aku benar-benar merasa diserang oleh segalah hal tentang masa lalu dan Gadis. Aku sebenarnya ingin masuk, tapi aku tidak mempunyai andil apapun. Pantaskah? Maka aku putuskan kembali berjalan menuju ruangan kekasihku, melanjutkan rencanaku untuk menjenguk kekasihku, yang tertunda.
Satu jam kemudian, tiba-tiba aku merasa gelisah, tiba-tiba keinginan untuk menjumpai Gadis begitu kuat. Dan tanpa aku sadari, kakiku telah melangkah ke arah ruangan Gadis dirawat. Seakan ada kekuatan lain yang mendorong. Itukah yang Gadis sebut dengan afinitas?
Ketika sampai di depan ruangannya, seorang suster keluar dengan wajah sedikit bingung. Kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri, hingga akhirnya ia menangkap wajahku. Ia tersenyum lebar, segera ia menghampiriku dan bertanya, “anda yang tadi saya tanyakan, bukan? anda teman mba Gadis? ia mencari anda” , suster itu memintaku untuk menemui Gadis. Aku segera mengiyakan dan masuk ke ruangan Gadis. Di sana aku melihat tunangan Gadis sedang berdiri lesu dengan wajah murung. Aku bercakap singkat dengannya dan meminta izin untuk menemui Gadis.
Semuanya berdiri dengan jarak 1 meter dari tempat tidur Gadis. Lalu kudengar Gadis membuka matanya perlahan dan memanggilku. Aku mendekatinya.. sangat dekat dan perasaanku berdebar kembali seperti debaran yang pernah kurasakan 4 tahun yang lalu. Tak terasa aku menitihkan air mata. Menyentuh pipi gadis yang pucat. Lalu sambil tersenyum lemah, gadis berbisik padaku, “Pria, kita telah menyelesaikan afinitas panjang ini, kita telah melepas semua perasaan yang telah kita represi. Aku benar bukan? Tuhan tidak menciptkan kau, aku, dan pertemuan kita dengan sia-sia. Sekarang aku takkan takut jika harus mencintaimu karena sekarang adalah waktu dan keadaan yang benar”.
Kata-kata gadis seperti guntur yang mematikan detak jantungku. Perlahan semua menjadi gelap. Gadis menyentuh tanganku dengan tangannya yang lemah, “pergilah, berbahagialah”, ucapnya terbata-bata. Aku merasa sangat sesak, tubuhku bergetar, jantungku berdegup  kencang.  Langkahku mundur tiba-tiba beberapa langkah. Tunangan gadis yang aneh melihat keadaanku segera memegang tubuhku. Aku melepaskan tangannya untuk memberitahu aku tidak apa-apa. Kemudian ia mengalihkan perhatiannya pada Gadis. kulihat mereka berbincang, entah tentang apa. Aku tak tahu mengapa tiba-tiba aku merasakan perasaan yang lebih hebat dari perasaan yang kurasakan 4 tahun lalu. Aku ingin marah, ingin teriak, ingin tertawa, ingin bahagia, ingin menangis. Aku ingin memeluk Gadis, aku tiba-tiba merasa cemburu melihat kawanku, yang juga tunangan Gadis, berbicara begitu dekat dengan Gadis. Ia tampak begitu mencintai Gadis. Aku marah, aku rindu, aku berdebar, dan berbagai perasaan lainnya. Aku lelah atas serangan perasaan-perasaan itu. Aku ingin memluk, aku ingin memeluk Gadis!
Kali ini aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan lagi. Maka segera kuhampiri gadis. Setelah sebelumnya meminta maaf pada tunangan Gadis, tanpa menunggu jawabannya, aku segera memeluk Gadis erat sambil membisikkan banyak kata maaf di telinganya. Aku juga mengatakan semua perasaanku padanya, tentang kebenaran afinitasnya. Aku mengatakan semuanya tanpa tersisa. Aku sudah tidak perduli dengan orang-orang di sekitarku. Kemudian dengan lirih gadis kembali berkata,“pergilah, berbahagialah!”, kemudian kulihat kembali senyum lemahnya yang penuh dengan keikhlasan.
Lalu dengan keadaan yang kacau, aku pergi meninggalkan ruangan itu. Aku terus berjalan cepat dan kencang meninggalkan rumah sakit, bahkan aku tak sempat kembali ke ruangan kekasihku.
Keesokan harinya, saat aku kembali menjenguk kekasihku, aku bertemu kawanku, yang juga tunangan Gadis.  Kami akhirnya memutuskan untuk bercakap-cakap sebentar. Ia memberitahuku, Gadis telah meninggal 30 menit setelah aku pergi dari ruangannya. Aku merasa sangat terpukul mendengarnya. Aku bahkan belum merasa melakukan apa-apa untuk Gadis. Baru saja hari ini aku berpikir untuk menghibur Gadis, mencoba membuat hubungan yang lebih baik setidaknya.
Lama kami terjebak dalam diam. Kediaman itu mungkin adalah mengenang gadis dengan bayangan kami masing-masing.
Kemudian kawanku itu berpamitan untuk pergi mengurus administrasi rumah sakit. Namun sebelum pergi ia memberitahuku sesuatu, “sebelum meninggal gadis memintaku menyampaikan kalimat ini padamu: - terimakasih telah menyimpan suratku -. Aku tidak tahu apa maksudnya, tapi kurasa kau lebih paham”, kemudian ia memberikan alamat tempat pemakaman gadis, ia bilang mungkin aku akan membutuhkannya.
Dari mana gadis tahu aku menyimpan suratnya? Bahkan aku baru ingat kalau aku masih menyimpannya. Inikah afinitas itu? Ya Tuhan... tiba-tiba aku merasa seperti orang yang sangat bodoh. Semua perasaan yang ternyata tersimpan di alam ketaksadaranku, kini mencuat, meluap membanjiri alam sadarku.
Setelah pertemuan itu, aku segera melaju ke rumah. Kucari surat gadis yang ditulisnya 4 tahun lalu, di hari yang sama dengan hari kepergiannya. Segera kuambil surat itu dari tumpukkan buku-buku lama bekas kuliah dulu. Kuciumi aroma keusangannya, aroma yang menghantarkanku pada pertemuan di siang itu. Pertemuan saat pertama kali kujabat tangan Gadis yang membuat jantungku merasakan sesuatu.
Setelah beberapa saat terlarut, aku segera memacu motorku ke tempat pemakaman gadis. Sepanjang perjalanan, kenangan tentang gadis terus menyerang perasaanku. Ya.. kami berafinitas! Kami berafinitas! Berafinitas!

------

Di sini aku terdiam. Satu jengkal dari tanah yang masih merah dan basah, tempat sebuah cinta yang pernah ada tertimbun di dalamnya. Di tempat ini kubuka kembali surat yang membuat air mataku tak berhenti mengalir membasahi tanah merah milik Gadis. Di tempat ini kuikrarkan Gadis sebagai sosok yang pernah mencintaiku dan kucintai lewat alam ketaksadaran kami. Di tempat ini aku mengambil Gadis dari waktu, dan menyerahkannya kembali pada Tuhan. Akhirnya aku juga berterimakasih pada Tuhan, atas segala kesempatan yang ia berikan. Gadis menepati janjinya, ia tak pernah menjadi hal yang sia-sia untukku, dan dia tak pernah menyia-nyiakanku. Seperti Tuhan yang tak pernah menyia-nyiakan kami.
Sungguh, ada cinta untukmu Gadis.
Maaf.

*****

Jakarta, 14 Juni 2011
Untuk yang menyesali pertemuan, percayalah tidak ada pertemuan yang sia-sia,
@dindahn

Sabtu, 23 April 2011

Tokoh Utama dan Gadis-Gadisnya

Pesta tentang cinta itu palsu!
Sang tokoh utama berlari keluar dari pesta yang hanya sunyi ia dapati. 
Anjing-anjing kecil bergongong menggunjing dalam lolong-lolong panjang. Menceritakan tentang ia dan pesta yang tak usai.

Kehilangan – sudah menjadi plot utama. Alurnya selalu mengalir deras bagai arus sungai yang diburu angin.
Tokoh utama lelah, ia berontak, ia ingin keluar dari cerita sang penulis. 
Ia mempreteli tiap-tiap plot yang digariskan. Ia belokkan alur-alur yang lurus, bahkan ia patahkan garis-garis pondasi cerita. Tokoh utama berontak dari alamnya – alam cerita yang dibuat oleh sang penulis kisah.

Malaikat-malaikat  yang tengah tumbuh dewasa terbengong-bengong dibuatnya. Mengamati tokoh utama yang terus saja berlari tanpah arah. Menembus portal-portal kisah yang semestinya.

Pesta tentang cinta selalu saja tidak berakhir indah baginya, sang tokoh utama.Ia muak.. terakhir kali dua cintanya hilang –  gadis-gadisnya hilang dan terbang meninggalkan penyalahan.

Susah payah ia merangkai keping demi keping rasa takjub , namun dua cintanya ternyata lemah – hanya bisa datang lalu pergi ketika kecewa.

fiksi.kompasiana.com
Gadis-gadisnya menjadi basi – hanya bumbu yang ditambahkan oleh sang penulis yang harum menyengat lalu basi dalam waktu singkat – basi yang menyengat.  
Demi kebaikan katanya – tokoh utama mencoba melakukannya.
Tapi kini ia di luar kendali. 

Gadis-gadis basi adalah basi yang sebenarnya ia inginkan namun ia abaikan. 
Gadis-gadis basi itu sudah lama basi baginya, bahkan ketika sang penulis menyajikannya sebagai harum yang menggoda. Lalu mau diapakan?

Toh pesta tentang cinta, akhirnya telah tokoh utama ketahui -  tiada seorang pun merdeka dalam pesta itu. 

Tapi ia kecewa. Gadis-gadis basi bisa matang kembali di pesta lainnya, sedangkan ini pestanya, ia yang utama. 

Maka tak ada pesta lagi setelahnya, tak ada lagi pesta bersama gadis-gadis basi – basi bahkan sebelum ia cicipi-. 

Yang terjadi ialah, ia tahu bahwa yang utama itu hanya akan membereskan pesta tentang cinta (yang palsu) ini. Yang utama itu dia. 
Maka ia berontak.. ia tidak ingin berakhir sendiri. Ia memacu kakinya yang kuat dan seolah 
semakin kuat ketika ia gunakan untuk berlari.

Ia berlari begitu kencang. Bulu-bulu kakinya sampai berterbangan.

Ia berlari melawan plot yang semestinya, sangat kencang, sampai ia tidak sedikitpun merasa sakit menabrak angin.

Semakin kencang, kencang, dan kencang.. hingga angin pun memilih untuk bersahabat dengannya.. angin menerbangkannya, tinggi .. tinggi sekali..

http://1.bp.blogspot.com/
Menenggelamkannya dalam ketinggian, ia kini lepas.. peta cerita itu ia ludahi..

Ia melambai pada gadis-gadisnya yang basi.. yang sedang sibuk dengan pestanya yang baru..
Ah..  ia tidak perduli.

Ia mencari awan , berusaha menggenggamnya, ia bermain dengan angin – terbang dengan sayapnya yang ia ciptakan sendiri.

Ia terbang menembus siluet-siluet mega yang legam menggoda.

Terbang lepas.. Mencari titik dimana ia akan terjun kembali. 
Ia berusaha membakar lukanya dalam tinggi.
Luka yang tidak ia kenali. 












                                                                               Hn - April 2011


Sabtu, 16 April 2011

Masih Wanita -

Pernah aku berpikir, rasa-rasanya menjadi seorang pria itu asyik. Aku bisa dengan mudah melemparkan diriku pada jalur terang perjuangan dan ketegangan, terhadap apa yang aku yakini. Aku bisa dengan tegas menentang tanpa dianggap mengungguli. Aku bisa berkelana mencari banyak orang-orang yang bertujuan. Aku bisa belajar dari mereka mengenai banyak pandangan.


Saat aku wanita, aku memang bebas. Aku bebas bermimpi untuk bisa berjuang secara bebas. Itu adalah kebebasan paling berharga yang aku punya. Apalagi di keadaan yang sudah terlalu kacau. Ah saat menjadi pria saja perjuangan dianggap sebelah mata, apalagi wanita.

Emansipasi?

Aku ini wanita yang menjunjung tinggi emansipasi, tapi aku juga seorang timur, berdiri di tanah leluhur. Aku membaca buku Habis Gelap Terbitlah Terang, tentang RA Kartini itu. 
Bahkan Kartini pun tidak secara murni memenangkan semua tuntutan emansipasinya. Dia melunak pada hal-hal tertentu, karena itu memang hal-hal yang manusiawi terutama sebagai manusia yang dilahirkan di tanah jawa. Perasaan itu telah berdasar sejak dilahirkan. Ada bagian yang tidak bisa tersentuh oleh pemikiran.

Tapi kemudian aku sadar, di zaman sekarang ini, di saat individualisme semakin tinggi, dan sudah tidak jelas lagi mana yang harus diperangi atau malah terlalu banyak yang harus diperangi, rasa-rasanya sama saja antara menjadi wanita dan pria. 
Keduanya hanya akan menjadi golongan kecil sebagai pejuang. Sedangkan yang lainnya adalah golongan orang-orang yang hanya suka oper sana-sini. Orang-orang yang sukanya cari muka, bertindak berlebihan dengan tindakan-tindakan impulsif, sunggung sebuah idiocy yang menyedihkan! Biasanya tujuan mereka selalu dan selalu popularityPernah sewaktu-waktu aku bikin joke begini untuk mereka (ini sakartis sebenarnya) :

Mereka yang golongan lebih banyak itu biasanya hanya mencari popularitas dengan tindakan-tindakan impulsif, mungkin secara tidak langsung dalam hati dan pikiran mereka sudah tertanam sebuah mindset “We just need an idiocy to make a popularity”. Hahahah
Lalu aku memutuskan dan menyadari sesegera mungkin untuk tetap bersyukur telah menjadi seorang wanita.

Yaa.. mungkin aku bukan Kartini, yang mempunyai kenalan-kenalan orang Belanda atau Eropa lainnya sehingga mempermudah ia dalam berjuang atau mungkin aku juga tidak seperti beliau yang merupakan anak orang terpandang di Jawa. 

R.A. Kartini

Dan aku juga bukan Cut Nyak Dien yang bisa begitu liar dan terang dalam berjuang melawan penjajah. Masalah-masalah mereka kala itu masih bulat dan jelas antara masalah tentang penuntutan emansipasi dan masalah perlawanan terhadap bangsa-bangsa kulit putih yang menjajah.
Cut Nyak Dien


Tapi sekarang? Masalah begitu suram, tidak jelas. Tindakanpun menjadi  abstrak dan terkadang keinginan menjadi absurd. Lagi pula aku hanya gadis biasa, wanita pun belum. Tapi telah kuputuskan, aku akan tetap memulai dengan bertekad untuk berjuang dengan caraku. Walaupun sekarang aku belum menemukan cara yang terang, jelas dan tepat, aku tidak perduli. Karena aku tau Tuhan telah tau apa harapanku, karena semua berawal dari mimpi dan harapan bukan? 
Jadi aku telah meyakinkan suatu hari aku akan melakukan sesuatu yang mengingatkanku bahwa aku pernah memiliki harapan seperti ini.




Hn. - masih wanita..

Selasa, 15 Maret 2011

K L I S E (?)

terang memburam
sekitar mesra, mesra, redam
pernah kau dengar kehidupan jujur berbicara?
- yang tersisa hanyalah cinta fatamorgana
setiap wajah terpahat kata "dua"
bagaimana bisa kau berserah pasrah? di balik wajah, wajah-wajah yang tak pernah terpancar rona sahaja
syair gelisah
pujangga terguncah
siut-siut angin membawa kabar duka : malam yang ingin kau jumpa masih tertidur di ambang petang-
pict: raisyarahmi-akuhadalahcinta.blogspot.com
Oh, celaka!
segala menjadi lepas!
bahkan malampun masih enggan terjaga
duka berkelana
resah meronta-ronta
aku tersungkur reda
sepi menjadi mesra
-kemudian aku berjarak-
dalam kesendirian kutemukan Tuhan dan Bunda
wajah, wajah-wajah yang tiada pernah redup rona
Ah, cinta yang mesra.. aku jumpa cinta..


pernahkah kau dengar kehidupan berdusta?
-abaikan!
pada akhirnya hanya ada dua kesempatan : dead with life or life with dead
dan.. bolehkah kuambil yang pertama, Tuhan?

d.hn.

Sabtu, 19 Februari 2011

MENGUAK FENOMENA KE-ALAY-AN

Bermula dari kegiatan dadakan yang tidak berkegiatan (read : bengong), tiba-tiba aja sekelibet (entah ini bahasa mana -,-a) saya kepikiran tentang yang namanya kaum “alay” dan fenomena “ke-alay-an”nya.




Gini loh mbasist, masbro.. sebenernya ini sih curahan pertanyaan hati saya aja tentang fenomena apa aja sih yang bikin seseorang bisa disebut “alayers”?  Nah setelah beberapa hari sempat  bergabung dengan TIM PKAIndonesia untuk melakukan penelitian dengan case “apa saja yang menyebabkan seseorang disebut alay?” berikut ini nih fenomena yang menurut penelitian TIM PKAI (Pengamat Kebahasaan Alay Indonesia) udah pasti menjadi fenomena disebutnya seseorang sebagai seorang “alayers”:
  1. Biasanya mereka yang tulisannya kecil GEDE kAyAk gInI nIh masuk ke kategori alayers
  2. Nah ditambah lagi simbol abjad-abjad yang udah disepakati sebagai alfabet internasional itu juga diubah-ubah seenake ndewe seperti misalnya penggantian posisi /g/ diganti dengan /9/, /a/ diganti dengan /4/, /o/ diganti dengan /0/, /e/ diganti dengan /3/ nah katanya sih biar dianggap 9403L (read : gaul) gituuu.. heheh
  3. Selain itu biasanya juga penambahan konsonan atau vokal yang sangat berlebihan dan mubazir tanpa perubahan makna yang berarti, yang bikin si pembaca makin pusing pas ngebacanya misalnya k4yUaa 9iNih NiCh.. *___*
Nah tiga hal di atas tersebut merupakan tiga ciri fenomena pertama yaitu  fenomena tertulis yang menyebabkan seseorang dapat dituduh sebagai agen alayers di Indonesia. Mengapa tertulis? Karena biasanya yang paling mudah membuat seseorang di’judge’ sebagai seorang alay adalah dari tulisan yang ia buat, dan kalau kata kakak, mas, om dan tante-tante psikolog biasanya bentuk dan gaya tulisan seseorang mencerminkan kepribadian orang tersebut wew |WARNING!!| .




Then, how with others phenomenon?

Well, next saya akan ngebahas tentang the second phenomenon of Alayers..
Nah fenomena kedua ini mungkin belum terlalu konvensional untuk disebut sebagai ciri-ciri seorang alay, karena dari segi tulisan belum tentu mencolok seperti fenomena pertama yang saya jelaskan tadi.
Eitss.. tapi tunggu dulu, biasanya orang-orang yang mengalami fenomena pertama dengan 3 ciri di atas tadi, juga mengalami fenomena kedua ini. Belum jelas pasti bagaimana hubungannya secara ilmiah sebab keterkaitan antara fenomena pertama dan fenomena kedua yang akan saya bahas ini. Tapi mungkin saya secara awam bisa menangkap bahwa hubungan emosional munculnya dua fenomena tersebut secera beriringan/keterkaitan adalah karena adanya sifat dari dalam diri pelaku yang selalu ingin tampak di permukaan, menonjol, terlihat, dan haus perhatian massa. Yak kira-kira begituu *dikutip dari hasil penelitian bersama TIM PKAI yang menggunakan teori Ngasalrius dalam bukunya Menguak Misteri Alam Alay,  <(‘,’)/
Kalau begitu langsung saja kita menuju TKP pembahasan, majuuuuu grak!

>> The Second Phenomenon <<

Hmmm begini mas-mas dan mba-mba sekalian, pasti dari sekian banyak manusia Indonesia yang berkeliaran di jejaring sosial dunia maya, lebih spesifiknya lagi yang kita kenal dengan FACEBOOK *jreng jreeeng..
Ada yang berpikir bahwa seorang ALAY adalah mereka yang paling sering status update dengan isi yang ga penting-penting amat, misalnya cuma bilang “aduh lagi pusing”, “baru bangun nih”, “lagi sebel sama orang nih, ada yang bisa nenangin gue ga yuah..”, “yuah jomblo lagi duech, tapi iz okey gue kan cewe kuat”, “duch malming sendirian,huft.. siapa yaa pangeran yang bakal dateng ke rumah gue???”, “makan bubur ada yang mau?”, “ih sebel deh ganti hp lagi, kebanyakan duit nih huft” (-,-‘), “lagi pups nih siapa yang mau ikut?”, “ternyata dia ga suka sama gue bla bla bla hiks”, “aduh pucing nih pala, kenapa ya?” – dan banyak lagi yang ga bisa saya ungkapkan satu per satu hehe. Pokoknya setiap detik setiap menit selalu dan selalu update status setiap gerak-gerik kehidupannya, apapun yang terjadi sama diri dia pokoknya di update ke status di FB deh, bahkan lagi bernafas pun bisa dijadiin sebagai  ‘update status’. Kita sebut saja ini sebagaaaaiiii fenomena ‘over-active’ *jreng jreeeng...

Nah belakangan hal-hal yang kayak gitu di facebook dianggap annoying oleh para penikmat FB lainnya, apalagi kalau ditambah dengan karakter penulisan seperti yang saya jelasin sebelumnya tadi, wah biasanya itu langsung memancing emosi dan bikin tangan gatel buat ngeremove. Mungkin kalau ga kuat-kuat iman, kita bisa kalah dengan emosi tersebut tanpa mempertimbangkan hal-hal lainnya (-..-‘)

Yaa begitu lah.. belakangan semua menjadi berubah, padahal dahuluu semua begitu indah (loh??)
Hehee intinya, disebutnya fenomena ‘over-active’ itu sebagai fenomena ke-alay-an, tidak langsung terjadi saat awal mula facebook mulai dikenal oleh banyak pengguna jejaring sosial di dunia maya. Tapi setelah hari demi hari berganti dan waktu terus berjalan, baru fenomena ini mulai diakui dan dirasakan sebagai fenomena ke-alay-an.
Mengapa? Banyak alasan yang tidak semua bisa dijabarkan. *ngeles :O
Mungkin karena seiring berjalannya waktu  penggunaan FB lebih dimaksimalkan untuk hal-hal yang lebih “berisi”, sehingga hal-hal yang kurang “berisi” dianggap sebagai pengganggu yang cuma ‘nyampah’. Terus, mungkin karena sifat manusia yang selalu bergerak (dinamis) termasuk pada pemikiran yang dinamis, jadi peluang merasa jenuh terhadap sesuatu itu sangat besar. Nah kejenuhan menghadapi keluhan-keluhan, update kurang penting, dan bentuk-bentuk tulisannya yang aneh  yang muncul di HOME FB itu bisa jadi merupakan salah satu sebab mengapa belakangan fenomena kedua ini (setelah fenomena tulisan alay; read : over-active) muncul. Ketika seseorang mengharapkan suatu info yang penting dari kawanan di jejaring sosialnya namun ternyata yang muncul di HOME FBnya hanyalah curhatan-curhatan, dan pemberitahuan kegiatan-kegiatan yang terkadang malah sangat pribadi atau justru sangat umum sehingga tidak penting untuk dipublikasikan, biasanya menimbulkan kekecewaan dan keresahan yang mendalam. Hehe – tapi ada juga yang cuek bebek ga perduli, mungkin karena orang-orang seperti ini benar-benar menghargai kebebasan, atau emang cool yang kebablasan?? who knows :D

FUTURE!!!

Then, how about twitter?

Yaaa yang menjadi pertanyaan BESAR saya di sini adalah : BAGAIMANA DENGAN TWITTER? Sebenarnya juga banyak para pengguna twitter yang kalau saya lihat-lihat nih yaa, menunjukkan fenomena ‘over-active’ yang pada facebook menjadi salah satu fenomena ke-alay-an. Yaaa memang bukan dari segi bentuk penulisan simbol-simbol alfabet yang berubah atau kecil GEDE kAyAk gIni sIh.. tapi lebih kepada update / tweets yang tiap menit tiap detik di twitter sehingga memenuhi TL (timeline) para pengguna twitter (tweeps) lainnya. Kadang hanya untuk memberitahukan hal-hal yang tidak penting, kegalauan-kegalauan tiada akhir, dan hal-hal lainnya yang menimbulkan kotroversi antara penting dan tidak penting deh pokoknya :D

Nah, seperti yang kita tau jejaring sosial TWITTER masih terbilang berumur muda dibanding FACEBOOK (maksudnya baru baru-baru ini dikenal masyarakat Indonesia gitu deh). Jadi dari twitter ini sebenarnya kita bisa berkaca bagaimana kehidupan di facebook dulu saat facebook masih hangat-hangatnya. Nah kalau begitu bisa disimpulkan fenomena ‘over-active’ seperti ini sebenarnya wajar di setiap pengguna jejaring sosial yang baru. Bisa saja suatu saat twitter tidak lagi sehidup sekarang, bisa saja penggunaannya kembali bergerak, para penggunanya tidak lagi menggunakan twitter untuk sekadar post tweets yang sepele atau terlalu keseharian seperti sekarang. 
Yaaa lagi-lagi saya bilang ingat saja apa yang terjadi pada para pengguna facebook yang dinamis.

Jadi semua ini sebenarnya hanyalah sebuah fase. Sejauh apa fase dikendalikan atau mengendalikan pemikiran-pemikiran para pengguna jejaring sosial tersebut. Mulai dari fase menggebu-gebu, fase biasa-biasa aja, sampai pada fase jenuh. Jadi alangkah bijaksananya (hehe ciyeeee) jika kita tidak men’judge’ seseorang yang menampakkan fenomena seperti ini secara berlebihan. Karena mungkin saja kita dahulu juga ternyata seperti itu. *waak curcool, HIHIHIHI :D

Lagipula siapa tau ketika di FB kita men’judge’ seseorang sebagai “alayers” karena kegiatannya yang ‘over-active’ itu, ternyata kita sendiri di akun jejaring sosial lain yang notaben lebih hot dan baru, juga melakukan hal yang sama. Jadi pesannya adalah jangan terlalu menganggap remeh seseorang atau para alayers atau apalah, yaa mungkin saja mereka masih di fase menggebu-gebu karena baru mengenal jejaring sosial tersebut. Tapi untuk orang-orang yang suka ‘over-active’ juga sebaiknya menyadari sebelum disadari (ancaman halus, wkwk), dan berusahalah untuk dapat menyesuaikan diri saat berada di jejaring sosial yang notabennya merupakan forum umum yang penggunanya bukan cuma kamu dan mbahmu sajaaa.. Jadi tidak semua hal mesti disebarluaskan. Wokeh!!

Dan untuk tim alay yang tulisannya suka kecil GEDE k4y4K 9iNiH nIcH.. sungguh sebagai mahasiswi bahasa saya merasa prihatin dan jelas terganggu, dan pasti begitu juga dengan banyak manusia di luar sana, jadi pesan saya adalah : menyadari kesalahan dan mau berubah itu jauh lebih baik dibanding tidak menyadari sama sekali, dan tidak menyadari sama sekali itu jauh lebih baik dibanding menyadari tapi tidak mau mengakui dan berubah jadi lebih baik. HORRASS! :D

SUBSTANSI PEMBAHASAN
  1. Fenomena ‘over-active’ sebenarnya umum terjadi pada fase menggebu-gebu. Dan mereka yang masih mengalami fenomena ini di saat orang lain banyak yang sudah mengalami fase jenuh, baru itu yang patut dipertanyakan (-,,-a) ?#$!!
  2. Apakah para pengguna twitter suatu saat akan mengalami pergeseran batas tingkat ke-alay-an seperti pada para pengguna facebook? Biarkan waktu yang menjawab :D
  3. Jangan terlalu kejam pada orang yang kau anggap alay, karena siapa tau dulu dirimu juga alay *e he he he, tapi yang penting adalah mau menyadari ke-alay-an dan mau berubah. Jadi buat yang karakter penulisannya masih kecil GEDE k4y4K gInI NiCh.. SEMANGAT UNTUK BERUBAH!!!

Akhir kata saya ucapkan wassalam, sekian dan terimakasih – diNd4 Hn (uupss hehe :p)

Jumat, 04 Februari 2011

Bolehkah Kami Insafi? (behind the scenes)

Sedang asik melihat-lihat coretan-coretan, tiba-tiba terpaku di satu coretan. haha 
Saya ingat betul, coretan yang satu ini dibuat pada saat saya sedang merasa terpojokkan oleh seseorang, pria tepatnya.. dan saya merasa sangat geram dengan keegoisannya, yang tanpa ia sadari (menurut sudut pandang saya) saya merasa telah dijauhkan dari hak saya dalam menentukan perasaan saya, seakan hanya dia yang bisa menentukan, padahal dia sendiri seakan lupa apa itu perasaan. Yaa.. saya justru mendapat pelajaran penting tanpa saya harus menjadi subjek yang melakukan hal tidak menyenangkan itu. Setidaknya sebagai objek, saya memetik pelajaran bahwa mencintai seseorang, bukan memaksakan cinta pada seseorang dan kemudian membencinya jika seseorang itu tidak dapat membalas cinta sebesar dan sekhusus cintamu padanya.

Naah, berikut ini repost coretan Saya itu, bahasanya dipengaruhi oleh gaya bahasa RA Kartini  dalam surat-suratnya. Check this out !

- Bolehkah Kami Insafi? - 
a
Barangkali dalam cinta antara insan, ada udara pekat yang merambah..
Akan terasa dan sangat terasa pekat itu, seperti hitam yang tak bertemu putih, 
ketika nafsu debu seakan tak bisa ditahan pacu.

Rusak, kering, sebuah yang kemerah-merahan itu menjadi kelabu, memicing ronanya ceking.
Saat keinginan menguasai luas jalan, membunuh tiap pengertian, 
memberi darah segar untuk pencapaian yang dipaksakan.

Lupakah Kami ini soal perasaan? Lupakah Kami ini soal kedalaman?

Lalu bagaimana mustinya? 
Rasanya inilah yang terpampang dimuka.. 
Kepekatan menjemput kala cinta bukan untuk dua yang didamba. 
Perlahan rongga putih terganti benci biasan amarah hati.. 

Kami lupakan sebuah kata yang sulit diinsafi.. 
'Keikhlasan' begitu biasa disebut, memang sulit diinsafi,
tapi nyatanya itulah yang mampu menghapus biasan amarah, 
nyatanya itulah yang menemukan putih untuk pekat yang merambah..

Karena cinta itu dasarnya perasaan yang Tuhan tanam pada ranah yang suci, 
maka patutlah keinsafan atas keikhlasan mengiringi,
betapapun susah, bolehlah Kami coba agar tenang, agar lebih damai rasanya..
agar lebih indah pencapainnya :)

Dinda Hn
didukung oleh lagu Alm. Chrisye : Merpatih Putih
"mengering sudah bunga di pelukan..."  


nb : dan terimakasih kepada orang yang membuat saya mampu mendapat pelajaran ini :) 

Karya Lugu Untuk Sayangku (sekemas cinta)

Hey sayang.. ada sajak lugu sepenuh hati untukmu..
untuk buaian hatiku tersayang..
Pahamkan, pahamkanlah!
biar sedikit manja,
karena ini untukmu,
dan ada baiknya kau dengar lagu yang ku dengar saat menulis sajak ini,
biar resap, biar tambah sampai hasrat rindu ku.

Dan sajak lugu yang itu, sajak yang cuma untuk mu simaklah sayang :

ada kalbu menumpuk rindu, mendesak penuh aku berderu.. 
pernah ada janji kerdil tentang cinta masa kecil..
ingatkah engkau tentang awal ? tentang aku yang kau taklukan?
Sayang selamanya ada lapang tersisih, seperti kau sudah membeli ruang,
ruang untuk mu di hati atau bahkan untuk rindu yang tak pernah mati,

dan sejak sore hadiahmu itu sampai malam tinggalanmu ini, 
aku masih punya sekemas cinta :)

ga - for my lovely dream

Jumat, 28 Januari 2011

Bincang-Bincang ala WarKop (Warung Kopi) Teh Ceceu


Di warung kopi Teh Ceceu, Kelurahan Sukadana, Negeri Kongkalikong, sedang asik berkumpul beberapa orang pemuda yang sedang asik berbincang:
Jonto, mantan mahasiswa salah satu universitas terkenal, yang baru 4 bulan ini mendapat gelar SE (Sarjana Ekonomi).
Botang,  mahasiswa spesialis peternakan yang sedang berusaha keras menemukan terobosan baru tentang perkawinan silang antara sapi lokal dan kerbau impor sebagai rancangan tugas akhirnya.
Muclis,  mahasiswa calon guru kesenian yang sedang menyiapkan doktrin-doktrin kebangkitan pemuda melalui karya seni, entah itu lagu, gambar, ataupun bentuk 3 dimensi. Yang ia siapkan dengan judul “Seni untuk Mengkritik”.
Menuju TKP...
M : Kalian tau tidak, beberapa petinggi negeri kita, mati! (sambil mengunyah pisang goreng yang baru saja dihidangkan oleh Teh Ceceu)  aduh panas..
B : Ah, gila lu Clis, mati kok barengan, edan!
J : Sok tau sampean iki Clis, mbok yooo ngomong hati-hati, koyo kenal aja sampean karo mereka.
M : Loh aku serius kawan, semalam aku dengar kabar itu dari radio Roes sax FM, nah yang mati, salah satunya Bapak N yang terkenal itu loh..
J : Teh, aku minta kopine satu gelas lagi yoo (berbicara pada teh cece) – lalu, apa lagi sing sampean denger, Clis?
M : Tak tau lagi lah aku, ketidurannya aku ini. Hehe
B : Wah, payah lau clis! Eh tapi, kasihan juga yak negeri kita ini, kehilangan beberapa sosok petinggi  sekaligus. Ckck miris gue..
J : Ah, perasaan tadi pas aku lari pagi melewati Komplek Petinggi, yoo sekalian lihat-lihat renovasi rumah-rumah mereka iku looh hehe, aku lihat Bapak N karo temenne yang juga seorang petinggi, sedang lari pagi kok. Berarti beliau belum mati toh?
M : (sambil memakan pisang goreng yang ketiga) – Setannya ituu..
J : Hah? Setan? Waduuh apesne aku iki, mbok yo pagi-pagi ketemu duit ngampar, lah kok iki pagi-pagi moso malah bertemu dengan setan petinggi itu!
B : Huss.. lu pada ada-ada aja, lagi pula mana mungkin pagi-pagi ada setan..
M : Ya tentu saja ada lah Tang! Lah buktinya itu tuh yang dilihat sama Jonto tadi pagi.. zaman sekarang manusia jadi setan itu sudah biasa, tak usah kaget lah kau Tang..
B : Wah, serius lu Clis? Wah gue jadi takut ke komplek itu, takut ketemu setan-setan petinggi.. hiiii bergidik nih..
J : Selooow bae Tang.. nampakne setan-setan iku baik, apik tenaan.. wong tadi pagi pas aku ketemu setanne Bapak N dan temannya iku, mereka melempar senyum padaku kok.. ruaamah yoo..
M : Ah kau ini Jon, itu hanya di depan kau saja ituu mereka bersikap manis. Padahal di belakang kau yaa, mereka terus menghantuimu, mengganggumu, membuat kau jadi tak enak hidup, tak tentram, tak bahagia, susah! – Teh Ceceeeuu, kenapa pisangnya cepat sekali habis, tambahlah 5 biji (berbicara pada Teh Ceceu)
Teh C : Etah kasurupan setan petinggi kayakna mah si Muclis teh.. makannya rakus pisaan.. astagpirullooh (ucap Teh Ceceu dalam hati, sambil mengambil gorengan di dapur).
B : Waduuuh elu Clis, bikin gue tambah bergidik aja nih!
M : Hahahaha, santai lah Tang,, tapi memang betul lah apa yang aku katakan sama kalian itu..
J : Naaah aku punya ideee.. gimana kalo kita serang aja setan-setan iku? Gimanaaa? Bagus toh ideku? He hee
B : Maksud lo gimana Jon?
J : Gini looh, maksud ku kita teror setan-setan iku, supaya mereka jauh-jauh dari negeri kita iki..
M : Hadaaah gaya kau Jon. Heh, kau tau tidak? Kalau kau serang satu setan, mereka bisa saja dengan gampang menyuruh kawan-kawannya untuk menyerang kau balik. Teror mereka itu lebih kejam Jon, bisa mampus kau!
J : Walaaah iyo yoo?
M : Lah iya laah.. Jonto kawankuuu.. kau itu harus hati-hati sebelum berurusan dengan mereka harus pikir matang duluu.. kalau tidak kau bisa terjebak dalam lingkaran setan, tak bisa keluar kau jadinya, bisa mati kutu kau di dalam lingkaran itu, jadi korban lah kau.. sekali mereka tau kau tak sepaham saja itu bisa membahayakan kau.. apalagi kau teror mereka langsung.. jangan gegabah Jontoo..
J : Lah terus gimana yoo?
M : Entah lah, sedang malas mikirnya aku ini.. Kekenyangan akuu..
Teh C : Nah rasakeuun.. kekenyangan kan si aden teh.. mana bisa mikir baik atuh kalo kekenyangan mah, macam petinggi itu aja sih den Muclis iyeu, sagala dimakan.. ckck
M : Hehe, betul juga teteh ini.. Lalu bagaimana pula lah? Sudah terlanjur masuk makanan itu...
B : Nah punya usul!! Lebih baik sekarang kita persiapin diri mulai dari kita sama temen-temen kita aja dulu.. dari anak mudanye, yaaa kalo yang tua-tua udah tinggal pasrah, kita ajarin tuh yang muda-muda supaya ga pasrah doang..
J : Aku juga punya tambahan usul! He hee.. buat antisipasi serangan jarak dekat dari setan-setan iku, yoo kita bacain surat-surat doa aja, biar mereka panas.. kebakarr..
M : Aduuh Jon, tak mempan itu dengan setan macam mereka.. mereka itu lebih berbahaya dari setan biasanya.. Tak akan panas mereka, mereka itu sudah tutup telinga mereka supaya tidak perduli dengan suara di sekitar mereka.. itu yang menambah kejam mereka, menambah sifat kesetanan mereka..
B : Gila tuh setan petinggi, danger juga!
J : Yoweeess, kita berdoa saja bareng-bareng supaya setanne iku pergi, ga ganggu lagi. Kita berdoa karo Gusti Allah, supaya Negeri Kongkalingkong iki aman sentosa dan bebas dari gangguan setan-setan petinggi.. Gimana?
M : Setuju lah aku soal ini, hehe
B : Iya gue juga setuju Jon..
Teh C : Saya juga setuju den..
J : Yowisss, Muclis, sampean pimpin doane yoo..
M : Lah kenapa aku Jon?
J : Yo rapopo, emangne salah?
M : Bukan salah Jon, tapi aku lupa cara-cara berdoa yang baik hehe
: Walaahh Clis, aku juga ra bisa yooo he hee
M : Halaaah kau ini, ku kira kau bisa..
B : Ah elu pada, yaudah mending kita cari orang pinter aja sekalian minta ajarin!
M : Boleh itu, mau ke dukun mana kita?
B : Baah sekate-kate.. Dukun mulu yang ada di otak lu Clis. Bukan dukuuun..
J : Oh aku tau, maksud sampean insinyur nggih? Ya po oraa?
B : Itu juga bukaan.. Maksud gue tuh orang ahli agama, kayak ustad-ustad gitu.. Hah macem gini nih, bikin negeri tambah semrawut..
M : Hehe sorry lah Bang Botang.. Yasudah, lalu kita cari kemana itu bapak ustad?
J : Yoo ke tempat pengajian, masjid ato ngga musholla, moso ke tempat dugem..
B : Hahaaa ayo dah berangkat!
M : Teh Ceceuu.. Teteh tunggu saja di sini okey, biar kami yang berjuang dengan doa..
Teh C : Lah etah makanan minumannya kumaha atuh? Bayar dulu deen..
J : Tenang aja Teteh Ceceu, nanti aku karo temen-temenku iki bakal mbalik ke sini lagi,okeh?
B : Iya, teh tar kita bakalan balik lagi, utang dulu ye teeh.. he hee
J,B,M : Assalammualaikum!
Teh C : Eleuh eleuh, kabiasaan tuh anak-anak, utang deui.. utang deui.. Kumsalaam..




Terdepan