Minggu, 09 November 2014

Realisme Sosial dalam Cerpen "Kiai Mardikun"


PERLAWANAN SATIRE PRAKTIK KEBORJUISAN DALAM CERITA PENDEK “KIAI MADRIKUN”
 (Karya Aguk Irawan MN – Media Indonesia, 18 Mei 2014)
oleh Dinda HN
           
Karya sastra sebagai sebuah karya humaniora tentunya haruslah menyentuh aspek-aspek kemanusiaan dan manusia itu sendiri. Seperti yang diungkapkan Vladimir Jdanov, bahwa sastra harus dipandang dalam hubungan yang tak terpisahkan dengan kehidupan masyarakat, serta latar belakang unsur sejarah dan sosial. Utamanya di masa ini, penggambaran realitas sosial menjadi menarik mengingat masyarakat haus dengan penyampaian-penyampaian yang mengetuk naluri serta nalar mereka untuk merefleksi keadaan secara mandiri. Bukan lagi melalui paksaan-paksaan keras dalam menyadarkan betapa kekeliruan cara pandang itu cukup banyak terjadi di kesadaran maupun ketaksadaran kita sebagai manusia.
            Membaca cerita pendek (cerpen) Kiai Madrikun karya Aguk Irawan rasanya saya tidak memiliki jarak dengan apa yang hendak disampaikan di dalamnya. Sosok Kiai Madrikun, pengalaman hidupnya, serta orang-orang yang ada di sekitarnya serasa telah saya kenal. Maka, rasa-rasanya jika hendak dibayangkan atau dianalogikan atau digambar-gambarkan sesuai gambaran nyata, sosok-sosok yang ada dalam cerpen Kiai Mardikun mudah ditemui realisasinya dalam kehidupan bukan fiksi.
            Kiai Madrikun sendiri sudah mampu menggambarkan secara gamblang realitas sosial di kalangan masyarakat pembacanya. Kehidupan masyarakat itu sendiri sebagai sebuah realitas yang mendorong terciptanya karya. Seperti yang didengungkan di Uni Soviet mengenai aliran realisme sosialis yang muncul sebagai wujud penentangan terhadap kesenian borjuis yang memiliki kemerosotan. Para sastrawan Rusia seperti Gorky menebarkan gaya penulisan karya sastranya yang sangat kental dengan realisme sosial. Menurut para pemegang teguh realisme sosial, suatu karya sastra seharusnya mampu menjadi gambaran realistis yang ada di kehidupan masyarakatnnya. Bukan sekadar pesanan-pesanan penguasa, di mana seniman adalah pegawai yang harus memenuhi kewajiban tugas pesanan tersebut tanpa mengedepankan fungsi karya sastra sebagai media perjuangan atas kebenaran.
            Saya akui, Aguk Irawan cukup lihai dalam menggambarkan realitas sosial masyarakat pembaca cerpennya, masyarakat Indonesia. Semua tokoh dan peristiwa di dalamnya merupakan gambaran fiksi yang utuh sehingga secara konsep dan hakikat pesan, semuanya itu adalah sebuah kenyataan. Penggambaran ceritanya cukup sederhana, namun terasa sekali sejak awal banyak satire yang mampu membuat pembaca merefleksikan keadaan di sekitarnya, bahkan di dalam dirinya sendiri. Setiap deretan kata yang dipenakan oleh Aguk, memiliki aspek pragmatis yang kental.
            Kita bisa merasakan setiap pembacaan terhadap “Kiai Madrikun” adalah sebuah bentuk pertanyaan yang akan timbul di pikiran kita. Saya rasa, Aguk tidak menceramahi saya lewat karyanya, ia     menyampaikan fakta-fakta dalam masyarakat melalui bahasa fiksi dengan gaya ringan dan seakan “nyeleneh”. Saya sebagai pembaca dibiarkannya menikmati sendiri, memikirkan sendiri, mengintepretasikan sendiri sesuai kepahaman saya dan keberanian saya mengakui realitas. Namun rasa-rasanya, tidak ada alasan konkrit bagi setiap pembaca cerpen ini untuk tidak memahami maksud Agus yang disampaikannya melalui Kiai Madrikun. Semua masyarakat pembaca cerpen ini tentunya akan “manggut-manggut” ketika memahami tiap penjabaran kata oleh Agus. Sebuah fenomena umum yang khusus sekali di masyarakat Indonesia.
            Agus menciptakan jubah untuk Kiai Madrikun, jubah yang indah yang mungkin dikenakan oleh orang yang tidak semestinya. Jubah yang megecoh. Jubah yang banyak kita temui dalam realitasnya di kehidupan masyarakat Indonesia. Jubah yang banyak dipengaruhi dan mempengaruhi sosial-ekonomi. Jubah yang menjarakkan dan mendekatkan seseorang pada orang yang dikehendakinya. Maka, menarik sekali membedah bagaimana realitas sosial-ekonomi mampu mempreteli kearifan dalam cerpen ini.

Marxisme: Refleksionalisme Kekuatan Sosial-Ekonomi Dalam Realitas Sosial
            Berbicara soal Kiai Madrikun, berbicara soal kesemuan yang banyak dipengaruhi oleh kekuatan sosial-ekonomi. Kekuatan tersebut sering keali menciptakan kesenjangan antara kaum atas dengan kaum bawah, antara kaum kuat dengan kaum belum berani untuk kuat, atau antara kaum bersuara dan kaum terbelenggu suara. Aguk berupaya menyuarakan suara-suara dari para kaum terbelenggu suara dan mengingatkan kita pada realitas yang harus kita sikapi. Aguk ingin berbicara tentang perlawanan kelas sosial yang sering kali dianggap “tidak tahu apa-apa”, “manut-manut wae”, terhadap kaum-kaum atas (dalam hal ini orang-orang yang gila jabatan serta gila hormat). Lebih dari itu, Aguk juga berbicara tentang perlawanan satire terhadap belenggu terhadap pemikiran-pemikiran pembaca itu sendiri.
            Atas dasar tersebut, Marxisme menjadi sebuah pisau yang saya rasa cukup tajam untuk membedah cerpen “Kiai Madrikun”. Menurut saya, terlepas dari isu kekomunisannya, teori marxis sendiri mampu digunakan sebagai salah satu teori sosial yang mampu membedah fenomena-fenomena realitas masyarakat Indonesia. Teori sastra Marxis memusatkan perhatian pada bentuk, gaya, dan maknanya sebagai produk dari sejarah tertentu.
Seni bagi marxisme merupakan bagian dari “superstruktur” masyarakat yang menjamin situasi penguasaan satu kelas sosial atas kelas sosial lainnya yang dilihat sebagai sesuatu yang “natural” atau bahkan tidak terlihat sama sekali. Memahami kesusastraan berarti memahami keseluruhan proses sosial di mana kesusastraan itu sendiri menjadi bagian darinya. Walau merupakan bagian dari superstruktur, kesusastraan tidak sekadar cerminan pasif dari basis ekonomi.
Engels menjelaskan bahwa seni tidak semata-mata bersifat ideologi. Ideologi yang dimaksud bukan hanya sekumpulan doktrin, tapi juga menggambarkan bagaimana manusia memainkan perannya dalam masyarakat kelas, nilai-nilai, dalam ide dan citra yang mengikat mereka pada fungsi sosial dan mencengah mereka dari pengetahuan yang benar tentang masyarakat sebagai suatu keseluruhan
Salah satu kecenderungan lain kritik sastra Marxisme adalah mengasumsikan kesusastraan sebagai ‘refleksionisme’, ‘mencerminkan’, atau ‘mereproduksikan’ realitas sosial secara langsung. Menariknya, baik Marx ataupun Engles tidak menggunakan istilah ‘pencerminan’ dalam hal karya sastra. Meskipun demikian refleksionisme menjadi salah satu cara untuk melawan teori-teori kaum formalis yang memenjarakan sastra pada satu ruang tertutup, terlepas dari sejarah.
George Lukacs, merupakan salah satu kritikus sastra Hungaria yang  memegang teguh teori Marxis. Georg Lukacs memandang estetika sastra dalam butir-butir prinsip sebagai berikut. (1) Tugas kesenian (termasuk sastra) adalah menampilkan kenyataan sebagai totalitas. (2) Karya sastra menyajikan yang khas dan yang universal. (3) Karya sastra memiliki kekuatan membongkar kesadaran palsu dalam pola pikir sehari-hari masyarakat. (4) Seorang sastrawan mempunyai tanggung jawab dan karenanya harus terlibat dalam masalah yang sedang dihadapi masyarakatnya; seorang sastrawan, kata Lukacs, hendaknya adalah seorang realis, dan seorang realis hendaknya seorang sosialis, dan sebagai seorang sosialis, sastrawan harus tahu dan terlibat dalam masalah sosial masyarakatnya. (5) Dalam setiap karya sastra, kepedulian sosial menjadi ukuran standar keindahan dan satu-satunya ukuran kebenaran.    
Berpegang dari penjabaran tentang Marxisme maka dapat kita lihat beberapa aspek sosial-ekonomi bergejolak memengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk di dalamnya adalah pola pikir serta kesenjangan-kesenjangan yang diciptakan. Sastra sebagai wujud refleksi dari sejarah tertentu dalam hal ini sejarah tentang pemikiran masyarakat Indonesia terhadap sesuatu yang dianggap tinggi. Bagaimana, wujud ke-borjuis-an begitu terasa sangat membodohi dan merendehkan wujud lainnya. Bagaimana, pola pikir masyarakat Indonesia yang masih begitu banyak menyimpan kemunafikan dan kerap kali takut menyuarakan apa yang seharusnya disuarakan.

Kiai Madrikun, Perlawanan Satire Aguk Irawan
“SAAT Kiai Madrikun turun dari mobil mewahnya, orang-orang yang menunggunya sudah berjubel, berebut untuk mencium tangannya. Semakin tangan kiai disembunyikan, semakin ramai orang yang berebut, berdesak-desakan sampai ada yang jatuh. Ia sebenarnya tidak sealim kiai-kiai lain di daerah itu, tapi ia punya keistimewaan. Selain pandai berpidato, Kiai Madrikun juga dikenal sebagai ahli pengobatan alternatif. Pesantren yang dirintisnya lima tahun lalu kini telah menjadi pesantren paling berpengaruh di daerah itu.”
Paragraf tersebut merupakan pembukaan yang apik dari Aguk dalam menjalankan misinya melakukan perlawanan satire melalui karyanya. Aguk menggambarkan secara realistis keadaan masyarakat yang sering kali dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Aguk sama sekali tidak menyelipkan kata-kata penentangan secara terang terhadap perilaku yang digambarkan tersebut. Namun, Aguk berupaya menunjukkan pada pembaca bahwa sudah seperti itu adat-budaya yang ada di negeri kita. Bagaimana seorang tinggi yang masuk dalam superstruktur di masyarakat, begitu diagungkan hanya karena jubah yang ia kenakan, walaupun sebenarnya sang Kiai tidak sealim kiai-kiai lainnya. Namun, keadaan ekonomi Kiai Madrikun yang tinggi serta kemampuan supranaturalnya yang ciamik nyatanya memang mudah menghipnotis masyarakat kalangan lebih rendah di sekitarnya untuk bersikap menghamba.
Paragraph tersebut menjadi salah satu contoh perlawanan Aguk terhadap kesenjangan yang begitu jauh. Perilaku yang menurut Aguk tidak pantas dilakukan, tentu itu sebabnya Aguk menuliskannya sebagai paragraf pembuka dalam cerpennya. Penjabaran tersebut kemudian didukung dengan superior ekonomi yang dimiliki Kiai Madrikun hingga membuat orang-orang di sekitarnya menghamba. Penggambaran pesantren megah Kiai Madrikun di tengan rumah-rumah kumuh warga, menjadi satire yang cukup sinis dan menyilet bagi pembaca yang berpikir dan tidak bersembunyi dari kenyataan pemikirannya tersebut tentunya.
“Bangunan  pesantren berdiri megah di tengah kerumunan rumah-rumah reyot. Ada tiga gedung bertingkat dan semuanya berlantai marmer.  Maka wajar saja, nama Kiai Madrikun begitu melejit, selalu menjadi buah bibir.”
            Memang sepanjang penggalan cerpen, selalu penuh dengan aroma perlawanan khas Marxisme. Keborjuisan dan/atau kefeodalan khas masyarakat Indonesia konservatif sangat terasa direfleksikan melalui Kiai Madrikun, para pejabata DPR, juga tentunya masyarakat kelas sosial-ekonomi menengah ke bawah yang pastinya memiliki peranan penting terhadap “apakah keadaan tersebut akan terus berlangsung atau tidak”. Saya rasa, Aguk sudah cukup jengah dengan keadaan tersebut dan berupaya menyadarkan keseluruhan jenis pribadi masyarakat yang diwakilkan dalam tokoh-tokoh di cerpennya tersebut melalui penggambaran realitas yang jika dipikir untuk apa dituliskan begitu real jika tidak sebagai bentuk perlawanan satire ala Aguk Irawan.
            Dalam cerpen ini Teori Marxis bukan lagi sekadar bicara tentang wujud aliran cerpen yang mengacu pada realism sosial, namun pada bentuk lain di dalam penggambaran fenomena-fenomena di dalamnya. Hal tersebut adalah perlawanan terhadap pengaruh negatif sosial-ekonomi dalam praktik masyarakarat ‘superstruktur’ vs ‘minorstruktur’. Berikut beberapa contoh praktik-praktik tersebut yang mencerminkan realitas sosial masyarakat Indonesia: (1) kemunafikan, (2) penghambaan, (3) penjilat, (4) cuci uang, dan (5) kelemahan mental.

Topeng sang “Kiai”
            Topeng bisa diidentifikasikan sebagai kedok, bukan wajah sebenarnya. Kali ini saya membawa definisi topeng kepada sesuatu yang lebih luas. Topeng di sini merupakan gambaran terhadap kepalsuan atau lebih tegasnya penipuan. Penipuan itu sendiri mungkin bukan hanya kepada orang lain, akan tetapi juga kepada diri sendiri. Lihat saja bagaimana Aguk, menampilkan betapa topeng mampu mempengaruhi keadaan ‘supersturktur’ dan ‘minorstruktur’ tersebut. Nyatanya, perlawanan satire Aguk memiliki alasan yang baik, bahwa memang layaknya tidak adak praktik-praktik penghambaan kepada keborjuisan atau kefeodalan, karena seringkali mereka yang “diagungkan” hanya memakan topeng atau kedok kekuatan sosial-ekonomi, bukan keluhuran budi sebenarnya.
      Ia tidak saja mendapatkan keuntungan dari warung, tapi juga dari togel yang dibandarinya. Madrikun memperoleh bantuan modal usaha dari teman anggota dewan itu.
Meski sehari-harinya bandar togel, Madrikun selalu mengenakan sarung, berkopiah putih, dan baju koko lengan panjang yang sudah agak kusam warnanya. Entah lungsuran dari siapa.
“Madrikun, ah kamu rupanya pantas menjadi kiai,“ kata temannya.
“O iya, begini-begini dulu pernah mondok…“ kilahnya dengan sangat percaya diri. Lantas anggota dewan itu seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Kalau begitu, lebih baik kamu buat proposal untuk pembangunan pesantren. Nanti saya atur, mesti diajukan ke mana. Tapi nanti kalau sudah cair, jangan lupa bagian saya!“
Jika kita tarik garis lurus cerita “Kiai Madrikun” terhadap realitas di masyarakat Indonesia baru-baru ini, kita mungkin akan tersenyum satire pula. Mengingat beberapa kasus yang melibatkan orang-orang yang mestinya menjadi panutan dalam bidang agama dan tentunya spiritual. Kenyataan saat ini ialah, bagaimana pemikiran masyarakat Indonesia mulai diserang oleh fakta-fakta pahit yang membuat degradasi kepercayaan terhadap panutan spiritual.
Lihat saja kasus yang baru-baru ini menyerang salah satu ustad kondang Indonesia yang memiliki kekayaan tidak sedikit dan pengaruh spiritual yang cukup besar, sehingga kerap diagungkan oleh masyarakat. Penggambaran Kiai Madrikun oleh Aguk, nyatanya mampu memerangkap fenomena kasus ustad dengan inisial UGB tersebut. Serupa Kiai Madrikun yang sama-sama mengenakan topeng, namun mungkin dengan latar sejarah topeng yang berbeda.
Lantas, penggambaran lain dari ‘topeng sang Kiai’ juga memerangkap sosok Bapak Menteri Agama di refleksi saya, ketika membaca penggalan berikut:
“Menjelang zuhur, masyarakat di kampungku dikejutkan oleh pemandangan ganjil. Sejumlah orang tiba-tiba datang menjemput Kiai Madrikun. Ia diringkus paksa dengan tangan diborgol, lalu digiring ke dalam mobil khusus.”
Sungguh tragis, entah sengaja atau tidak, diniatkan atau tidak, tapi peristiwa tersebut begitu dekat dengan realitas keadaan saat ini. Sekali lagi, tentu penggalan tersebut menciptakan refleksi revolusionar terhadap pola pikir pembaca atas penentuan sikap yang tidak seharusnya melihat seseorang tinggi hanya karena topeng atau jubah sosial-ekonomi. Tidak ada jaminan kuat kita menghambakan diri pada orang yang benar dan bersih. Maka, seolah Aguk ingin mengatakan, tidak ada keharusan kuat untuk kita merendahkan diri sendiri di hadapan penguasa atau panutan, siapapun itu, kita harus kritis dalam menanggapi segala persoalan. Seperti sosok “aku” yang begitu kritis terhadap asal-usul kekuasaan Kiai Madrikun. Sikap penolakan penghambaan tersebut juga ditunjukkan Aguk melalui sosok “aku” dalam cerpennya yang secara pribadi hanya memanggil “Madrikun” tanpa embel-embel “Kiai”.
“Apa benar Kiai sudah mendapat karomah?” tanyaku penuh selidik pada temanku itu. Setahun ini ia menjadi tangan kanan Kiai Madrikun”
“Konon, setelah menjadi orang sakti, Madrikun terlibat dalam pencurian kayu. Menurut cerita dari mulut ke mulut, saat ada razia judi besar-besaran, Madrikun tiba-tiba menghilang begitu saja.”

Kemunafikan Masyarakat
            Sungguh, penggambaran seluruh peristiwa dalam cerpen “Kiai Madrikun” menegaskan bahwa betapa praktik “kaum bawah” dan “kaum atas” begitu dekat dengan kemunafikan. Kemunafikan kaum atas digambarkan dari kemunafikan Kiai Madriku, Anggota DPR, yang tidak lain hanya mempermainkan uang rakyat. Seolah-olah mereka ingin berbuat baik. Padahal mereka hanya melakukan sebuah kejahatan melalui kedok kebaikan. Aguk ingin mengingatkan semestinya warga bisa sadar ketika Kiai Madrikun mendirikan pesantren megah ketika sekitarnya masih sengsara, seperti Aguk ingin mengingatkan pada kita, kemurnian kebajikan bisa dilihat dari hal-hal sekitar. Apakah mungkin seorang dengan mental spiritual baik akan tenang-tenang saja di dalam sangkar megahnya ketika tetangga sekitarnya dalam kesulitan yang begitu ketara?
            Kemunafikan lain adalah pada kaum bawah itu sendiri. Lihat saja ketika Aguk menggambarkan bagaimana warga tidak ada yang berbalik arah menjadi anti-menghormati Kiai Madrikun, termasuk salah satunya Ustaz Mujib yang menjadi kaki tangan Kiai Madrikun sebelumnya.
Menjelang zuhur, masyarakat di kampungku dikejutkan oleh pemandangan ganjil. Sejumlah orang tiba-tiba datang menjemput Kiai Madrikun. Ia diringkus paksa dengan tangan diborgol, lalu digiring ke dalam mobil khusus. Sementara itu, petugas lain memasang papan nama dengan tulisan `Bangunan ini Dalam Pengawasan KPK’ di halaman depan pesantren. Dari jarak yang tak seberapa jauh, sejumlah orang melihat peristiwa itu dengan sorot mata yang redup. Tak tampak lagi kerumunan orang berebut untuk mencium tangan Kiai Madrikun. Satu orang pun tidak!
            Penjabaran-penjabaran tersebut merupakan wujud perlawanan nyata Aguk terhadap praktik-praktif keborjuisan dan kefeodalan di dalam masyarakat Indonesia. Perlawanan satire yang apik, karena Aguk berupaya menebarkan benih-benih pemikirannya melalui refleksi realitas sosial-ekonomi pada pembacanya. Tentu saja, hal tersebut merupakan salah satu wujud bagaimana sastra merupakan bentuk seni untuk masyarakat. Bukan sekadar seni untuk seni.

 Memanusiakan Manusia
            Banyak dari kita yang selalu meneriakkan memanusiakan manusia namun lupa bahwa artinya begitu luas dan caranya begitu banyak. Memanusiakan manusia juga bisa dilakukan dengan melakukan sesama sewajaranya. Menghormati seseorang atas dasar prestasi dan mentalitasnya, bukan sekadar dipengaruhi oleh unsur kekuasaan sosial maupun ekonomi. Tidak berlebihan dalam menghargai sesame manusia, karena pada hakikatnya semua manusia itu memiliki kesempatan dan peluang yang sama. Perlawanan terhadap bentuk-bentuk penghambaan dan pengaguman tanpa analisis kritis juga menjadi sebuah perlawanan yang perlu diperjuangkan untuk menciptakan harmonisasi kehidupan. Sastra menjadi salah satu jalan yang baik untuk menuju harmonisasi tersebut. Seperti yang dikatakan Lukacs , bahwa seorang seniman besar adalah mereka yang dapat menangkap dan menciptakan kembali totalitas harmonis kehidupan manusia.


Dinda Hayati Nufus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terdepan