Jumat, 17 Desember 2010

Nenek,


Hujan sore itu
seperti biasa
menyisakan wanginya yang sederhana
wanginya yang harum basah
wanginya yang ramah
membawa bekas jejak-jejak pergolakan sejarah
Hujan sore itu
Seperti dahulu
Membawa kisahnya yang lalu
Saat masih ia lihat anaknya, kecil-kecil bermain di bawah langit itu
Menunjuk-nunjuk pada hujan yang kelu
Hujan yang sangat biru

Hujan sore itu
Perlahan ia berjalan
Menuju kursi di rumah bagian depan
Duduk perlahan di atas kursi goyang
Duduk perlahan, begitu rentan
Bergemetar tangannya, memegang tasbih coklat
Menyendu matanya menatap langit yang pekat

Hujan sore itu
Seperti biasa
Semua pergi tiada
Hatinya hampa,
Ada yang ia rindukan
Hujan sore itu
Melihat ia kala dulu
Menjaga anaknya, kecil-kecil yang bermain centil
Di bawah hujan sore itu

Hujan sore itu
Menatap ia dengan sendu
Kursinya bergoyang merdu
Hatinya mencari bau itu
Bau kehangatan keramaian
Kala dulu di halaman rumah itu
Yang ramai lagi penuh
Anaknya yang kecil-kecil berlari saring mengejar
Berlari membawakannya air hujan di genggaman

Hujan sore itu
Di halaman rumah itu
Halaman yang sama
Kini..
Hanya sisa bau kenangan masa lalu
Kisah yang sederhana
Kini...
Hanya ia sendiri
Tangannya bergetar
Bibirnya bergetar
Yang memegang tasbih itu
Yang kesepian itu, namun menyimpannya
Yang selalu tersenyum kala kami datang
Yang selalu ku intip diam-diam lubuk kesedihannya
Tangannya bergetar
Di depan halaman rumah
Kursinya bergoyang
Menatap rumput hijau yang sudah hilang
Yang matanya redup itu
Yang renta itu
Yang sepi itu
Yang selalu ingin ku peluk
Yang selalu ingin ku jaga
Yang selalu ku intip diam-diam cintanya pada anak cucunya
Yang selalu ingin agar kami menemaninya
Yang tidak pernah memaksa

Hujan di sore itu
Masih sama katanya
Dengan harumnya yang sederhana
Sesederhana cintanya pada keluarganya
Dengan wanginya yang ramah
Seramah ketabahannya
Seramah kebijakkannya
Hujan di sore itu
Yang memegang tasbih coklat
Yang bibirnya bersyahadat
Yang memeluk gambar suaminya erat
Hujan di sore itu
Adalah tentang yang hampir terlupakan dalam sempat
tentang nenekku, wanita yang kuat

Untuk nenekku yang cantik, yang selalu menyayangiku
aku  selalu bercita-cita agar mampu menyayangimu dengan baik
lebih baik dari mereka.
Terimakasih untuk segalanya, berjanjilah di usiamu yang sudah berkepala tujuh,
Kau masih akan kuat J

Dinda Hn.
2010

Terdepan